Langit7, Bogor - Mahasiswa diminta memiliki perspektif mata elang dalam merumuskan strategi kemandirian pangan lokal untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Sebagai generasi milenial, para mahasiswa harus memandang sejauh mungkin terkait potensi pangan Indonesia.
Prof Hadi Susilo Arifin, Guru Besar IPB University bidang Ekologi Lanskap dan Manajemen Lingkungan PB University itu menyebut, cara pandang tersebut biasanya diwujudkan dalam
road map. Menurutnya, pangan lokal harus diasumsikan sebagai pangan yang dihasilkan di sekitar masyarakat sendiri.
Prof Hadi menyebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, saat Indonesia mencapai kemerdekaan 100 tahun atau pada tahun 2045 mendatang, penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 319 juta jiwa.
Baca juga: Konsep Hidroponik Jadi Solusi atas Keterbatasan LahanDengan pesatnya pertumbuhan penduduk ini berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan primer. Kebutuhan primer tersebut tidak hanya bersumber dari tanaman namun juga ternak.
“Peningkatan populasi, perubahan pola hidup, kebutuhan produksi yang ramah lingkungan, adanya tranparansi dan keterlacakan pada setiap sistem pertanian, serta adanya perdagangan bebas atau global pada akhirnya konsumen akan menentukan aturan-aturan atau regulasi kepada negara produsen,” ujar Prof Hadi Susilo Arifin, dalam keterangan tertulis, Selasa (2/11).
Bahkan, katanya, masyarakat kota saat ini enggan makan sembarangan dan semakin sadar tentang gaya hidup sehat. Dengan demikian, apabila melihat situasi masa depan ketahanan pangan Indonesia, dinilai masih rentan terhadap kekurangan pangan.
Prof Hadi juga menyoroti bahwa kemandirian pangan seharusnya berasal produk lokal sesuai dengan potensi sumberdaya alamnya. Tidak hanya itu, produk pangan ini juga mudah diakses oleh semua kalangan masyarakat.
“Kemandirian pangan berarti tidak tergiur oleh pangan impor. Sayangnya, generasi muda mudah tergiur dengan
franchise impor,” kata Prof Hadi Susilo Arifin, pakar ekologi
lanskap dari IPB University.
Baca juga: Erick Thohir Ajak Umat Islam Bantu Pulihkan Ekonomi NasionalDengan merujuk pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Sistem pangan nasional memiliki kedaulatan pangan dan kemandirian pangan sebagai pondasinya. Menurutnya, strategi pertama untuk mewujudkan sistem pangan nasional yang berkelanjutan tersebut yakni dengan adanya gerakan menuju transformasi pangan masa depan.
Ia mengambil pelajaran dari
National University of Singapore terkait program
SG Green Plan: 2030 movement yakni Singapura harus menyediakan 20 persen pangannya dari produk dalam negeri. Dari pembelajaran ini, strategi kedua adalah mendukung pangan berbasis kearifan lokal seperti sagu.
“Ragam produk pertanian Indonesia berbasis kearifan lokal harus dipertahankan. Ini bisa melalui strategi inovatif pada proses pasca panen, logistik, pemrosesan, pengiriman, dan kampanye. Seperti Jepang yang melakukan branding tanaman iles-iles sebagai Konyaku yang bernilai tambah tinggi,” tambah Prof Hadi Susilo Arifin.
Baca juga: Kerjasama Blue Ekonomi Indonesia-Swedia Sumber Pertumbuhuan Ekonomi BaruDosen IPB University itu juga menyebut, perlu optimalisasi lahan kering yang tersebar di beberapa wilayah timur Indonesia. Tidak hanya itu, dalam penguatan ketahanan pangan, perlu didukung sistem agrologistik yang bagus mulai dari pascapanen sampai industri.
“Kita perlu
extension service terkait penyuluhan
internet of food and farm 2020. Penyuluhan terkait
smart agriculture ini dapat berupa penggunaan robot dalam proses pengolahan pangan,” pungkas Prof Hadi.
(zul)