Roehana Koeddoes, Jurnalis Muslimah Pertama yang Jadi Google Doodle Hari Ini
Muhajirin
Senin, 08 November 2021 - 18:27 WIB
Gambar ilustrasi Roehana Koeddoes jadi google doodle hari ini (foto: google.com)
Hari ini, Senin (8/11/2021), nama Roehana Koeddoes ramai menjadi perbincangan publik. Gambar ilustrasi jurnalis muslimah pertama di Indonesia itu terpampang sebagai Google Doodle. Perayaan tersebut bertepatan dengan keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Roehana Koeddoes pada 2019 lalu.
Roehana Koeddoes terlahir dengan nama Siti Roehana pada 20 Desember 1884 di desa Koto Gadang desa (nagari), Kabupaten Agam, di pedalaman Sumatera Barat, Hindia Belanda. Ayahnya, Mohammad Rasjad Maharadja Soetan merupakan kepala jaksa Karesidenan Jambi dan kemudian Medan.
Roehana merupakan saudara tiri Sutan Sjahrir dan sepupu Agus Salim. Dia juga bibi (mak tuo) penyair Indonesia Chairil Anwar.
Roehana merupakan muslimah cerdas meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dia sering belajar kepada sang ayah, yang mengajarinya membaca dan studi bahasa. Ketiga sang ayah ditugaskan ke Alahan Panjang, Sumatera Barat, ia meminta tetangganya untuk mengajari Roehana membaca dan menulis dalam aksara Jawi dan Latin. Dia juga diajari keterampilan rumah tangga seperti renda.
Baca Juga:Buya Hamka Tak Hanya Ulama dan Sastrawan tapi juga Pejuang Kemerdekaan
Ayah Roehana memang memiliki banyak macam buku, majalah, dan surat kabar. Dari situ ia mendapat banyak wawasan. Dia membaca semua koleksi itu. Ia kemudian tumbuh menjadi sosok muslimah yang cerdas.
Setelah sang ibu meninggal pada 1897, ia kembali ke Koto Gadang. Ia mengajari para muslimah di sana keterampilan kerajinan tangan dan membaca Al-Qur’an.
Roehana Koeddoes terlahir dengan nama Siti Roehana pada 20 Desember 1884 di desa Koto Gadang desa (nagari), Kabupaten Agam, di pedalaman Sumatera Barat, Hindia Belanda. Ayahnya, Mohammad Rasjad Maharadja Soetan merupakan kepala jaksa Karesidenan Jambi dan kemudian Medan.
Roehana merupakan saudara tiri Sutan Sjahrir dan sepupu Agus Salim. Dia juga bibi (mak tuo) penyair Indonesia Chairil Anwar.
Roehana merupakan muslimah cerdas meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dia sering belajar kepada sang ayah, yang mengajarinya membaca dan studi bahasa. Ketiga sang ayah ditugaskan ke Alahan Panjang, Sumatera Barat, ia meminta tetangganya untuk mengajari Roehana membaca dan menulis dalam aksara Jawi dan Latin. Dia juga diajari keterampilan rumah tangga seperti renda.
Baca Juga:Buya Hamka Tak Hanya Ulama dan Sastrawan tapi juga Pejuang Kemerdekaan
Ayah Roehana memang memiliki banyak macam buku, majalah, dan surat kabar. Dari situ ia mendapat banyak wawasan. Dia membaca semua koleksi itu. Ia kemudian tumbuh menjadi sosok muslimah yang cerdas.
Setelah sang ibu meninggal pada 1897, ia kembali ke Koto Gadang. Ia mengajari para muslimah di sana keterampilan kerajinan tangan dan membaca Al-Qur’an.