Kisah Pahlawan Nasional
Kekuatan Takbir Bung Tomo, Gerakkan Hati Non Muslim Berjuang Lawan Belanda
Muhajirin
Kamis, 11 November 2021 - 21:40 WIB
Orasi Bung Tomo (foto: istimewa)
Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah (INAIFAS) Kencong Jember, Rijal Mumazziq Z, menceritakan peristiwa menarik di balik pekikan takbir Sutomo (Bung Tomo) dalam peristiwa 10 November 1945. Kala itu, ada seorang dokter beragama Kristen yang ikut bergerak melawan tentara sekutu karena mendengar teriakan takbir Bung Tomo.
“Mas Tom, saya ini kan orang Kristen. Tapi kenapa waktu itu kalau mendengar Mas Tom mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, saya ini rasanya lupa semua. Saya tinggalkan segalanya untuk pergi berjuang.” ungkap dokter Siwabessy, veteran 45, kepada Bung Tomo.
“Karena anda mengetahui artinya Allahu Akbar (Allah Maha Besar) itu, maka Anda telah meninggalkan segalanya pergi berjuang.” jawab Bung Tomo, dalam Bung Tomo Menggugat: Pemikiran, Surat, dan Artikel Politik (1955-1980) (Jakarta: Visimedia, 2008).
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada dua tokoh yang dikenal sangat piawai dalam berpidato. Bukan hanya tertata dalam kalimat, tepat memilih kata, tapi juga mampu memantik semangat orang yang mendengar. Dua tokoh itu adalah Bung Tomo dan Ir Soekarno.
Memang, Bung Tomo besar dari cerita kehebatan Bung Karno dalam berpidato. Ia mendapat cerita kehebatan itu dari sang kakek, Mbah Notosudarmo. Ia dan sang kakek merupakan pengagum berat proklamator tersebut.
Pernah suatu ketika, Mbah Notosudarmo berpanas-panas bersama Bung Tomo hanya karena ingin mendengar Bung Karno berpidato pada awal 1930-an. Sang kakek juga sangat bangga menceritakan kiprah Bung Karno kepada Bung Tomo.
Bung Tomo pertama kali berpidato di hadapan para kaum pergerakan di zaman Jepang pada saat pembentukan Gerakan Rakyat Baru. Ia berpidato dengan gaya dan intonasi yang bisa dibilang menjiplak Bung Karno.
“Mas Tom, saya ini kan orang Kristen. Tapi kenapa waktu itu kalau mendengar Mas Tom mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, saya ini rasanya lupa semua. Saya tinggalkan segalanya untuk pergi berjuang.” ungkap dokter Siwabessy, veteran 45, kepada Bung Tomo.
“Karena anda mengetahui artinya Allahu Akbar (Allah Maha Besar) itu, maka Anda telah meninggalkan segalanya pergi berjuang.” jawab Bung Tomo, dalam Bung Tomo Menggugat: Pemikiran, Surat, dan Artikel Politik (1955-1980) (Jakarta: Visimedia, 2008).
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada dua tokoh yang dikenal sangat piawai dalam berpidato. Bukan hanya tertata dalam kalimat, tepat memilih kata, tapi juga mampu memantik semangat orang yang mendengar. Dua tokoh itu adalah Bung Tomo dan Ir Soekarno.
Memang, Bung Tomo besar dari cerita kehebatan Bung Karno dalam berpidato. Ia mendapat cerita kehebatan itu dari sang kakek, Mbah Notosudarmo. Ia dan sang kakek merupakan pengagum berat proklamator tersebut.
Pernah suatu ketika, Mbah Notosudarmo berpanas-panas bersama Bung Tomo hanya karena ingin mendengar Bung Karno berpidato pada awal 1930-an. Sang kakek juga sangat bangga menceritakan kiprah Bung Karno kepada Bung Tomo.
Bung Tomo pertama kali berpidato di hadapan para kaum pergerakan di zaman Jepang pada saat pembentukan Gerakan Rakyat Baru. Ia berpidato dengan gaya dan intonasi yang bisa dibilang menjiplak Bung Karno.