Kisah Kiai Maung, Kiai Sangar Mantan Preman Dirikan Pesantren untuk Preman
Muhajirin
Kamis, 18 November 2021 - 19:22 WIB
Muhammad Abdul Mumin atau akrab disapa Kiai Maung, pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah Subang (foto: langit7.id/istock)
Lahir dari keluarga petani, sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kekerasan. Orang tuanya sering menjadi sasaran kekerasan orang-orang mampu, karena bekerja sebagai kuli di sawah dan ladang. Hal itulah yang membawa sosok Muhammad Abdul Mu’in tumbuh menjadi remaja terjerumus dalam dunia premanisme.
Dari situ, jiwa pemberontak pria kelahiran Subang, 5 Januari 1974 itu yang akrab Kiai Maung itu kian menjadi-jadi. “Dari kecil sudah ada jiwa pemberontak,” katanya saat berbicang dengan LANGIT7.ID di Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (17/11/2021).
Meski begitu, ia terdidik memiliki jiwa mandiri. Meminta biaya hidup dari orang tua tidak mungkin. Maka Abdul Mu'in bekerja serabutan untuk biaya hidup dan membayar uang sekolah. Kala itu, ia sudah mondok di salah satu pesantren di Jawa Barat.
Pondok itu tergolong pesantren salaf atau tradisional. Santri hanya datang belajar kepada seorang ulama, lalu biaya hidup dipikir sendiri. “Dididik mandiri,” katanya. Sistem pesantren yang demikian membuat pria yang kini akrab disapa Kiai Maung mengambil pendidikan formal di sekolah negeri.
“Dari kecil saya sekolah sendiri, biayai sekolah sendiri. Saya mulai dari pesantren, kelas 3 itu sudah masuk pesantren. Jadi, saya pesantren, (pendidikan) formalnya saya selesaikan sendiri, tinggal di pondok tapi sekokah di luar,” ucapnya.
Masuk usia SMP pun demikian. Sekolah formal di luar pondok dengan biaya sendiri. Bahkan, ia merasakan perjuangan pahitnya kehidupan saat duduk di sekolah menengah pertama. Setiap hari, ia harus berjalan sejauh 12 km dari pondok ke sekolah tempat ia belajar.
Tak sampai di situ, saat pulang sekolah tidak langsung istirahat. Ia harus bekerja serabutan untuk mendapatkan uang jajan dan uang SPP. Berbagai profesi kuli pernah ia lakoni, seperti tukang angkut kayu, kuli bangunan dan sebagainya.
Dari situ, jiwa pemberontak pria kelahiran Subang, 5 Januari 1974 itu yang akrab Kiai Maung itu kian menjadi-jadi. “Dari kecil sudah ada jiwa pemberontak,” katanya saat berbicang dengan LANGIT7.ID di Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (17/11/2021).
Meski begitu, ia terdidik memiliki jiwa mandiri. Meminta biaya hidup dari orang tua tidak mungkin. Maka Abdul Mu'in bekerja serabutan untuk biaya hidup dan membayar uang sekolah. Kala itu, ia sudah mondok di salah satu pesantren di Jawa Barat.
Pondok itu tergolong pesantren salaf atau tradisional. Santri hanya datang belajar kepada seorang ulama, lalu biaya hidup dipikir sendiri. “Dididik mandiri,” katanya. Sistem pesantren yang demikian membuat pria yang kini akrab disapa Kiai Maung mengambil pendidikan formal di sekolah negeri.
“Dari kecil saya sekolah sendiri, biayai sekolah sendiri. Saya mulai dari pesantren, kelas 3 itu sudah masuk pesantren. Jadi, saya pesantren, (pendidikan) formalnya saya selesaikan sendiri, tinggal di pondok tapi sekokah di luar,” ucapnya.
Masuk usia SMP pun demikian. Sekolah formal di luar pondok dengan biaya sendiri. Bahkan, ia merasakan perjuangan pahitnya kehidupan saat duduk di sekolah menengah pertama. Setiap hari, ia harus berjalan sejauh 12 km dari pondok ke sekolah tempat ia belajar.
Tak sampai di situ, saat pulang sekolah tidak langsung istirahat. Ia harus bekerja serabutan untuk mendapatkan uang jajan dan uang SPP. Berbagai profesi kuli pernah ia lakoni, seperti tukang angkut kayu, kuli bangunan dan sebagainya.