Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 30 Juli 2026
home sosok muslim detail berita

Kisah Kiai Maung, Kiai Sangar Mantan Preman Dirikan Pesantren untuk Preman

Muhajirin Kamis, 18 November 2021 - 19:22 WIB
Kisah Kiai Maung, Kiai Sangar Mantan Preman Dirikan Pesantren untuk Preman
Muhammad Abdul Mumin atau akrab disapa Kiai Maung, pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah Subang (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Subang - Lahir dari keluarga petani, sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kekerasan. Orang tuanya sering menjadi sasaran kekerasan orang-orang mampu, karena bekerja sebagai kuli di sawah dan ladang. Hal itulah yang membawa sosok Muhammad Abdul Mu’in tumbuh menjadi remaja terjerumus dalam dunia premanisme.

Dari situ, jiwa pemberontak pria kelahiran Subang, 5 Januari 1974 itu yang akrab Kiai Maung itu kian menjadi-jadi. “Dari kecil sudah ada jiwa pemberontak,” katanya saat berbicang dengan LANGIT7.ID di Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (17/11/2021).

Meski begitu, ia terdidik memiliki jiwa mandiri. Meminta biaya hidup dari orang tua tidak mungkin. Maka Abdul Mu'in bekerja serabutan untuk biaya hidup dan membayar uang sekolah. Kala itu, ia sudah mondok di salah satu pesantren di Jawa Barat.

Pondok itu tergolong pesantren salaf atau tradisional. Santri hanya datang belajar kepada seorang ulama, lalu biaya hidup dipikir sendiri. “Dididik mandiri,” katanya. Sistem pesantren yang demikian membuat pria yang kini akrab disapa Kiai Maung mengambil pendidikan formal di sekolah negeri.

“Dari kecil saya sekolah sendiri, biayai sekolah sendiri. Saya mulai dari pesantren, kelas 3 itu sudah masuk pesantren. Jadi, saya pesantren, (pendidikan) formalnya saya selesaikan sendiri, tinggal di pondok tapi sekokah di luar,” ucapnya.

Masuk usia SMP pun demikian. Sekolah formal di luar pondok dengan biaya sendiri. Bahkan, ia merasakan perjuangan pahitnya kehidupan saat duduk di sekolah menengah pertama. Setiap hari, ia harus berjalan sejauh 12 km dari pondok ke sekolah tempat ia belajar.

Tak sampai di situ, saat pulang sekolah tidak langsung istirahat. Ia harus bekerja serabutan untuk mendapatkan uang jajan dan uang SPP. Berbagai profesi kuli pernah ia lakoni, seperti tukang angkut kayu, kuli bangunan dan sebagainya.

“Kadang dibayar orang untuk berantem. Saya pulang sekolah harus cari uang Rp 50, untuk bayar SPP sebulan,” ucap Kiai Maung.

Meski hidup dengan penuh lika-liku, namun Kiai Maung melihat satu sisi baik. Ia kerap dipanggil menemani gurunya kala bepergian. “Jadi bodyguard gitu,” ucapnya.

Di sisi lain, ia juga cerdas secara akademis. Ia mengaku mampu memperoleh nilai di atas rata-rata dalam pelajaran matematika dan fisika. “Tidak ada preman yang tidak cerdas,” celetuknya.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama, Kiai Maung memilih tak melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). “Karena waktu itu cita-cita saya pengen jadi teroris. Asli. Jad, karakter sejak kecil memang pemberontak,” ucapnya.

Titik Balik

Setelah melalui banyak rintangan. Berbagai pesantren di Jawa telah ia datangi. Kiai Maung menemukan titik balik saat bertemu bocah kecil bernama Ronald. Anak itu beragama Kristen. Namun, Ronald dengan tangan terbuka membantu Kiai Maung untuk mengisi perut.

Peristiwa itu terjadi di Nganjuk, Jawa Timur. “Saya ingat, Jumat sudah 7 hari tidak makan. Yang ngasih makan saya anak kecil, orang kristen, namanya Ronald. Namanya tidak pernah hilang dari ingatan saya. Saya belum ketemu, saya cari ga ketemu. Karena dulu dia tidak pernah menyebutkan alamat,” ucapnya.

Dari kejadian itu, Kiai Maung menemukan indahnya saling berbagi dan saling menyayangi. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling berbagi. “Dari situ saya belajar saling menyayangi, tidak boleh benci ke siapapun. Saat itu saya abis diusir kan, rambut saya panjang, model preman. Bukan salah mereka, salah saya, karena penampilan saja,” tuturnya.

Kisah lain yang membuat Kiai Maung terkesan adalah saat ditolong preman di Semarang. Kala itu, ia tengah berjalan ke kota tersebut. tiba-tiba dipalak preman. Namun bukannya menyakiti, tapi malah diajak ke markas mereka.

Secara tak sengaja buku-buku kitab kuning milik Kiai Maung jatuh ke tanah. Para preman itu melihat. “Ini apaan?” tanya preman tersebut.

“Itu jampi. kalau kamu mau jagoan itu kitabnya,” jawab Kiai Maung.

Dari situ mereka akrab. Kiai Maung tak seperti yang mereka duga. Sosok pemuda berambut panjang itu ternyata satu frekuensi. “Akhirnya saya disuruh tinggal dulu, saya bertanya ‘saya makannya gimana? ”. kita ini kuli panggul bang, kerja halal,” katanya.

Ketika, hendak pulang ke Jawa Timur, para preman itu pun mengurus transportasi untuk Kiai Maung. Dari situ, ia belajar bahwa agama harus dihidupkan, bukan hidup dari agama. Setiap orang harus memahami manusia lain, lalu memanusiakan manusia. Bukan malah merasa menjadi manusia paling benar.

Merintis Pesantren

Sekitar tahun 2002, Kiai Maung merasa prihatin dengan kehidupan preman yang ingin bertaubat namun tak memiliki wadah. Ia pun merintis pesantren, yang kini dikenal dengan Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah.

Baca Juga: Pesantren Raudhatul Hasanah Subang, The Real Pesantren Rock and Roll

Pesantren itu bermula dari kontrakan dengan 4 orang santri. Sebenarnya belum layak dibilang pesantren, para santri itu hanya tersentuh dengan cara Kiai Maung menyelipkan nilai-nilai agama ke para preman. Mereka ikut ke Kiai Maung untuk belajar.

Kehidupan 4 santri itu seluruhnya ditanggung oleh Kiai Maung. Bahkan, ia menyekolahkan mereka ke berbagai sekolah di Subang. Semua biaya sekolah ia tanggung. Tujuannya cuma satu, para mantan preman itu menjadi orang sukses di kemudian hari.

“Saya sedih melihat mantan preman yang tidak bisa mengaji. Pada akhirnya cerita hidup mereka mengerikan, ilmu agama tidak ada, tidak bisa ngaji, dia semakin tua. Lalu akhir cerita hidupnya sengsara. Dari situ, saya ingin mengubah mereka. Mereka harus hidup normal,” tegas Kiai Maung.

Sejak saat itu, Kiai Maung selalu mendekati anak-anak termarjinalkan untuk mengenal agama. Tapi pendekatannya unik. Ia tak berbicara halal-haram, tapi menggunakan pendekatan tasawuf. Sehingga, nilai-nilai Islam masuk secara perlahan ke hati mereka. “Kita mendidik mereka dengan keteladanan,” pungkasnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 30 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:58
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan