Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home sosok muslim detail berita

Mengenang KH Mahfudz Syaubari, Kiai Saudagar Perjuangkan Ekonomi Kerakyatan

Muhajirin Selasa, 16 Agustus 2022 - 13:37 WIB
Mengenang KH Mahfudz Syaubari, Kiai Saudagar Perjuangkan Ekonomi Kerakyatan
KH Mahfudz Syaubari (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Mojokerto - Pengasuh Pondok Pesantren Riyadhul Jannah, Pacet Mojokerto, KH Mahfudz Syaubari, meninggal dunia pada Selasa (16/8/2022). Beliau merupakan sosok kiai saudagar dan pernah menjadi santri di Ploso dan melanjutkan ke Sayyid Muhammad al-Maliki di Mekkah.

“Telah wafat KH Mahfudz Syaubari, Pacet. Beliau pengasuh PP Riyadhul Jannah, Pacet Mojokerto,” tulis Ketua Pengurus Wilayah (PW) Aswaja NU Center Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin, di akun Facebook-nya, Selasa (16/8/2022).

Kiai Ma’ruf mengenang Kiai Mahfudz sebagai sosok yang selalu terbuka dan mengembangkan usaha milik pesantren. Banyak rapat-rapat PCNU Kota Surabaya era 2010-2015 diadakan di pesantren beliau.

“Beliau wafat setelah istri pertama meninggal 2 hari sebelumnya,” ucap KH Ma’ruf.

Pesantren Pacet yang dikelola KH Mahfudz memang dikenal sebagai salah satu pesantren entrepreneurship di Tanah Air. Di sisi lain, Kiai Mahfudz merupakan sosok ulama sekaligus pebisnis yang bersahaja.

Pemikiran Tentang Ekonomi Kerakyatan

Kiai Mahfudz memiliki pemikiran revolusioner tentang ekonomi kerakyatan. Dalam pemikirannya, Kiai Mahfudz membagi masyarakat Indonesia menjadi tiga bagian yakni militer (TNI/Polri), akademisi (sarjana, guru, kiai, dan profesor), dan masyarakat makro (pedagang, tukang becak, petani, dll).

Mayoritas masyarakat Indonesia masih termasuk kalangan masyarakat makro. Kiai Mahfudz mengatakan, penduduk Indonesia hampir 90 persen adalah muslim tetapi masih banyak berada di dalam garis kemiskinan harta maupun moral.

Baca Juga: PPPIJ: Persoalan Ekonomi Jadi Masalah Utama Umat Islam

Indonesia pernah dijajah 300 tahun lebih. Meski sudah merdeka, namun dalam pandangan Kiai Mahfudz banyak masyarakat yang belum benar-benar merasakan nikmat kemerdekaan. Kekayaan Indonesia melimpah karena berada di wilayah strategis dengan dilintasi garis khatulistiwa, kesuburan tanah, dan potensi perikanan sangat besar.

Tapi sayang, sumber daya alam itu belum dapat dinikmati sendiri. Masih banyak perusahaan-perusahaan asing yang mengakar dan menggerus kekayaan Indonesia.

Kiai Mahfudz juga prihatin pada stigma masyarakat yang lebih memilih menjadi buruh meski digaji tinggi, daripada membuka usaha sendiri. Ini berlatar pada sejarah penjajahan yang secara perlahan mempengaruhi karakter masyarakat Indonesia.

Pendidikan ala Belanda bersifat individual dan kapitalistik. Justru, pendidikan yang dirintis para ulama nusantara berupa pesantren seakan diabadikan. Itu kemudian menjurus pada perpolitikan yang sudah mengakar tradisi politik uang.

Baca Juga: Cara Berdagang Rasulullah, Beretika Baik kepada Pelanggan

Politikus harus mengeluarkan banyak dana untuk sekadar menduduki kursi jabatan. Tak heran jika banyak politikus disokong pengusaha yang memiliki kepentingan kelompok.

Berangkat dari keprihatinan itu, Kiai Mahfudz mengembangkan kewirausahaan untuk memberdayakan umat Islam. Dia mengembangkan bisnis dari pesantren. Selain itu Kiai Mahfudz juga menggagas Forum Peduli Bangsa (FPB) yang terdiri dari para tokoh dan pengusaha yang peduli kepada nasib rakyat dan umat Islam.

Bisnis Beromset Miliaran per Bulan

Kiai Mahfudz memulai perjalanan bisnis berkat pinjaman mas kawin dari sang istri senilai Rp10 ribu. Dia lalu melanglang buana ke Sumatera dan Kalimantan untuk tafakur alam. Usaha keras itu berbuah hasil manis.

Dia berhasil memiliki ragam usaha mulai dari pertanian organik dengan merek GreenLife yang bisa masuk ke supermarket seperti Giant, Superindo, Hypermart di Surabaya. Dia juga memiliki banyak restoran seperti Warung Solo di Sidoarjo dan Restoran M2M, villa-villa di sekitar Pacet, air minum kemasan dengan merek Rijan. Semua usaha menghasilkan laba per bulan mencapai Rp3 miliar.

Baca Juga: Bayar Tunai hingga Cari Berkah, Begini Cara Dagang Sahabat Nabi Abdurrahman bin Auf

Semua hasil usaha itu tak dimakan sendiri. Selain membiayai pesantren, Kiai Mahfudz juga dikenal suka berderma. 10 persen keuntungan perusahaan diberikan kepada fakir miskin dan pembangunan masjid.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)