LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Sekjen
Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Ichwan Sam periode 2005-2015 dan Mantan Sekjen
PBNU zaman Gus Dur, KHM Ichwan Sam, wafat di Rumah Sakit Mayapada Bogor, Jawa Barat pada Ahad (25/12/2022) pukul 11.00 WIB.
Almarhum disemayamkan di rumah duka Kompleks Patria Jawa V No.90 A. Jatirahayu, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dia dimakamkan di pemakaman Al-Azhar Memorial Garden pada Senin (26/12/2022).
KHM Ichwan Sam dikenal sebagai sosok administrator dan mentor organisasi ulung. Dia sosok administrator yang menata dan memodernisasi organisasi besar seperti NU dan MUI. Dia juga dikenal sebagai sosok yang supel, bekerja dalam diam, dan mentor yang membimbing, mengayomi, dan mengkader banyak orang.
Ketua Bidang Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, mengaku sudah dekat dengan HM Ichwan Sam sejak 1996 saat masih mahasiswa. Kala itu, Niam menjadi pengurus di Majalah MUI dan membantu kegiatan-kegiatan MUI.
Baca Juga: Sekjen MUI Periode 2005-2015, HM Ichwan Sam Meninggal Dunia
“Mas Ichwan rajin membimbing, dengan memberikan arahan, mengajak diskusi, memberikan penugasan, hingga mengoreksi tugas yang sudah saya selesaikan. Koreksinya detail, hingga redaksi dan tanda baca yang sangat kecil,” kata Niam melalui keterangan tertulis, Senin (26/12/2022).
KHM Ichwan Sam adalah sosok yang sangat piawai dalam mengelola organisasi. Dia tertib administrasi, komunikasi sosial yang baik, sangat bersahabat, menjaga harmoni dan keseimbangan dalam tata pergaulan organisasi, serta disiplin.
"Kepulangan Almarhum KH. Ichwan Sam ke rahmatullah merupakan kehilangan bagi umat Islam Indonesia. Almarhum yg pernah berkhidmat semasa hidupnya sebagai Sekjen PBNU dan Sekum MUI adalah seorang administrator/organisator yg tekun dan pekerja keras," tutur Niam.
Sosok Pekerja Keras Dengan Legacy Luar Biasa KH Ichwan adalah sosok pekerja keras dan dedikasi untuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sungguh luar biasa. Di NU, dia menjadi salah satu aktor dalam modernisasi tata persuratan organisasi.
Baca Juga: Innalillahi, Budayawan Babe Ridwan Saidi Meninggal Dunia
Di MUI, KH Ichwan meninggalkan warisan pemahaman organisasi MUI sebagai pelayan umat dan mitra pemerintah. Dia juga menjadi aktor pendirian Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, lembaga otonom MUI yang khusus mengurusi fatwa ekonomi dan keuangan syariah. Mitra BI dan otoritas jasa keuangan dalam menjalankan praktek ekonomi dan keuangan syariah.
“Hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk perjuangan lewat organisasi. Bahkan, saya menjadi saksi hidup, saat Mas Ichwan sakit stroke, sejak 2014, beliau masih memikirkan MUI. Saat kondisi membaik, selalu meminta untuk ngantor ke MUI. Dan meski kondisi fisik lemah, beberapa kali juga diantar ke kantor,” ujar Niam.
Bekerja Dalam Sunyi Sebagai aktivis tulen organisasi, KH Ichwan lebih memilih bekerja dalam diam. Berkarya dalam sunyi, tapi meninggalkan legacy yang nyata dalam tatanan penguatan organisasi, termasuk LPPOM dan DSN MU.
Produk organisasi diarsipkan dan ditata serta didokumentasikan dengan sangat baik. Tidak larut dalam hingar bingar panggung publik. Meski peran organisasinya luar biasa, namun nama KH Ichwan di publik tidak setenar aktivis organisasi yang lain.
Baca Juga: Mengenang Ridwan Saidi“Mas Ichwan sering mendistribusi tugas kepada para junior, dari berbagai generasi. Buya Anwar Abbas, Mas Zainut Tauhid, Pak Amirsyah, Mas Rofiqul Umam, Pak Hasanudin, merupakan beberapa nama yang tumbuh di MUI dengan ruang kekaderan dari beliau. Beliau tekun, istiqamah, dan pekerja keras di balik meja,” ungkap Niam.
Merawat Kader, Menjaga Harmoni Niam mengaku mendapat dua pelajaran penting dari KH Ichwan dalam berorganisasi yakni komitmen untuk merawat kader dan menjaga harmoni serta menghindarkan diri dari konfrontasi dan konflik.
KH Ichwan selalu melihat posisi positif saat ada dinamika dalam organisasi. Dia tidak langsung menyalahkan jika ada pengurus yang tidak aktif maupun pengurus yang terlalu aktif. Selalu ada nilai positif yang bisa dipetik.
“Dalam distribusi tugas, beliau konsisten dengan asas representasi, dengan terus menjaga komunikasi dengan berbagai latar belakang ormas Islam yang berbeda,” ungkap Niam.
Baca Juga: Wapres Minta MUI Jaga Akidah Umat Agar Tak Menyimpang dari Nilai Islam
Ketika penyusunan pengurus MUI, KH Ichwan selalu menekankan dua hal yaitu aspek kompetensi dan aspek keterwakilan atau representasi. Hal ini untuk menjaga kebersamaan dan harmoni, namun harus tetap dalam koridor profesionalisme dan keahlian sesuai bidang tugas.
“Selamat jalan Mas Ichwan, amal jariyahmu akan mengalirkan pahala, menerangi alam kuburmu; menjadi pemberat timbangan kebaikanmu, dan mengantarmu dalam indahnya surga,
jannatun naim,” ujar Niam.
(jqf)