LANGIT7.ID, Jakarta - Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, KH Abun Bunyamin Ruhiat, meninggal pada Sabtu (19/11/2022) pukul 10.13 WIB setelah menjalani perawatan di RS TMC Kota Tasikmalaya. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga kompleks Ponpes Cipasung.
Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tasikmalaya, KH Aminudin Bustomi, mengatakan, almarhum merupakan ulama besar dari Tasikmalaya. “Kita hari ini kehilangan salah satu ulama besar dari Tasikmalaya,” katanya.
Pria yang akrab disapa Kiai Abun itu lahir pada 27 September 1949 dari pasangan KH Ruhiat dan Hj Siti Aisyah. Semasa hidup, dia dikenal sebagai sosok pria yang sangat mencintai ilmu. Itu juga yang ditularkan kepada santri dengan menekankan keharusan berkomitmen pada dunia ilmu.
Staf pengajar Institut Agama Islam Cipasung Tasikmalaya, H Dendi Yuda, dalam tulisannya di laman resmi NU, menjelaskan, kecintaan Kiai Abun pada ilmu ditampakkan melalui kebiasaan muthala’ah, membuat catatan pidato, ceramah, atau khutbah.
Baca Juga: Innalillahi, Ulama Persis KH Aceng Zakaria Wafat
Meski sibuk mengurus pondok pesantren dan berdakwah, namun Kiai Abun selalu menyempatkan diri untuk menulis. Di antara karya tulis ulama kharismatik ini adalah diktat Jurumiah (bahasa Sunda), Metode Pengajaran Akhlak (Analisis Isi Kitab Ta’lim Muta’alim), dan Metode Belajar di Pesantren Menurut Syekh az-Zarnuji.
Paket Komplit Keilmuan Kiai AbunSecara keilmuan, Kiai Abun bisa dikatakan paket komplit. Dia menempuh pendidikan formal dan nonformal. Secara nonformal, dia belajar dari sang ayah secara langsung di Pondok Pesantren Cipasung.
Selain itu, dia merupakan murid dari Kiai Sobandi (murid Syekh Mahfudz at-Tarmasi di Mekkah), pengasuh Pondok Pesantren Cilenga. Dia juga belajar ilmu agama di Cilenga kurang lebih empat tahun, dari 1922 sampai 1926.
Kiai Abun juga berkeliling belajar ilmu agama dari satu pesantren ke pesantren lain yang ada di Nusantara. Dia pernah mondok di Pondok Pesantren Sukaraja asuhan Kiai Emed, Pesantren Kubang Cigaloncang asuhan Kiai Abbas Nawawi, dan Pesantren Cintawana yang diasuh oleh Kiai Toha.
Baca Juga: Mengenang KH Aceng Zakaria: Ulama Hebat Produk Pendidikan Lokal, Kualitas Internasional
Pada pendidikan formal, Kiai Abun pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Rendah Islam (SRI) Cipasung pada 1955 sampai 1961. Dia lalu melanjutkan di Sekolah Menengah Islam Cipasung sampai 1964. Berlanjut di SMA Islam Cipasung dari 1964-1967.
Beliau tetap menuntut ilmu di Cipasung sampai 1971. Dia pernah menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Islam (PTI) Cipasung. Dia juga alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang kala itu masih bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN).
Di IAIN Bandung, dia mengambil jurusan bahasa Arab pada 1974-1976. Dari PTI Cipasung, dia memperoleh gelar Bachelor of Art (BA) atau sarjana muda, dan sarjana sepenuhnya dia raih saat di UIN Bandung (Drs).
Pada 2022 sampai 2004, Kiai Abun melanjutkan studi ke program Magister di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Dia memperoleh gelar Magister Studi Islam.
Baca Juga: Kabar Duka, Ki Joko Bodo Meninggal Dunia
Dengan keilmuan yang luas itu, Kiai Abun dipercaya menjadi penerus perjuangan dalam mengembangkan pesantren Cipasung setelah KH Ruhiat (ayah) dan KH Moh Ilyas Ruhiat (kakak).
Selain mengajar di Pesantren Cipasung, Kiai Abun juga pernah menjadi dosen pascasarjana di Institut Agama Islam Cipasung dengan mengampu mata kuliah Pendidikan Berbasis Pesantren. Seleas Muktamar PBNU ke-34 di Lampung, dia diberi amanah sebagai salah satu Rais Syuriah PBNU masa Khidmah 2022-2027.
KH Abun Bunyamin Ruhiat mulai memegang kepemimpinan Pesantren Cipasung menggantikan KH Dudung Abdul Halim yang wafat pada 2012. Dan Kiai Abun menjadi pengasuh salah satu Pesantren tertua di Jawa Barat itu, sampai akhir hayatnya.
(jqf)