LANGIT7.ID, Jakarta - Pesantren Tebuireng di Jombang, sudah masyhur akan kualitas pendidikan agamanya. Pesantren yang didirikan KH Hasyim Asyari ini merupakan mercusuar dakwah di Jawa Timur yang telah melahirkan banyak tokoh nasional berpengaruh.
Sebut saja KH Ma’ruf Amin yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Kiai Ma’ruf nyantri di Tebuireng selama enam tahun mempelajari ilmu fiqih dengan rujukan kitab-kitab salaf, Ma’ruf dan mengikuti pendidikan formal.
Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari sendiri adalah kiainya para kiai. Ketika bulan Ramadhan tiba, para kiai dari penjuru tanah Jawa dan Madura datang ke Tebuireng untuk mengaji kitab.
Baca Juga: Tafsir Ali Imran Ayat 134: Karakter Penghuni SurgaKH Hasyim Asy’ari merupakan sosok yang telaten dan murah hati dalam membina santri-santrinya. Betapa istiqamahnya Hadratus Syeikh dalam mengajar dan shalat berjamaah.
KH. Abdul Muchith Muzadi, santri langsung KH Hasyim Asy’ari menceritakan betapa Hadratus Syeikh sangat memiliki perhatian besar terhadap kemajuan dan kemandirian murid-muridnya. Selain digembleng agar berkualitas secara spiritual, Hadratus Syeikh juga mendidik santrinya berdikari dalam hal apapun.
Kakak kandung KH Hasyim Muzadi ini menceritakan pengalaman menarik ketika belajar di bawah pengasuhan KH Hasyim Asy’ari. Dalam hal ibadah, Hadratus Syeikh dikenal sebagai pendidik yang disiplin dan rutin mengimami shalat lima waktu.
“Iya, terutama Subuh. Kalau subuh beliau ngimami, baca Al-Qur’annya itu satu juz dalam dua rakaat. (Padahal) beliau bukan hafidz. Jadi kalau shalat (beliau) membawa Al-Qur'an” kata Kiai Muchith dikutip buku Hadratus Syeikh KH M Hasyim Asy’ari di Mata Santri.
Baca Juga: MUI: Metaverse Dapat Jadi Sarana Simulasi Manasik HajiMeski demikian, tidak semua santri sanggup mengikuti jamaah shalat Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Muchith sendiri mengaku sering “bolos” jamaah Subuh karena tidak kuat berdiri.
“Nah, santri yang seperti saya ini dulu nggak tahu jamaah subuh. Nggak kuat!
Pedhot ndalan, wis. (berhenti di tengah jalan).
Wong sing diwoco sa’ juz kok (Surat yang dibaca satu juz, kok).”
“Ini betul-betul saya saksikan sendiri. Saya ngakoni (mengakui) nggak pernah jamaah subuh di masjid, karena memang nggak kuat. Kiai Hasyim istiqamah salat lima waktu ngimami terus,” kisahnya.
Kiai Hasyim Asy’ari juga luwes dalam menerapkan pendidikan bagi santri-santrinya. Hadratus Syeikh membebaskan para santri berkreasi selama masa pendidikan dan mengembangkan dirinya sesuai kemauan.
Baca Juga: Cantiknya Gamis Brukat, Baju Pengajian Maudy Ayunda“Nggak ada aturan dari pondok. Ada santri yang (ba’da Subuh) mengadakan pengajian sendiri. Saya melihat di Tebuireng itu, belajar bebas, mandiri, mencari kreasi sendiri. Jadi santri yang nggak punya semangat (belajar), ya nol hasilnya. Keluar Tebuireng tidak dapat apa-apa, kalau tidak punya kreatifitas sendiri," ujarnya.
(zhd)