LANGIT7.ID, Jakarta - Habib Husein Ja'far Al-Hadar menilai sistem pendidikan pondok pesantren memiliki kelebihan tersendiri ketimbang lembaga pendidikan umum. Kelebihan pesantren yang paling mencolok adalah tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga amal.
Santri tidak hanya belajar mengenai hal-hal kognitif saja, sebagaimana lembaga pendidikan umum. Saat masuk ke lingkungan pesantren, para santri tidak hanya mendapat materi teoritik saja. Ada penekanan pada amal ibadah dari setiap ilmu yang dipelajari.
Menurut dia, jika pelajar hanya diajari perkara ilmu pengetahuan saja, mereka tidak akan bisa lebih pintar daripada Wikipedia maupun Google. Sebab, unsur kognitif saja tidak menjadi tujuan pendidikan pesantren.
Para kiai mengembangkan pendidikan umum dalam bentuk pembelajaran afektif dan tingkah laku. Pesantren sejak awal sudah menanamkan hal ini dalam mendidik para santri. Sebab, ilmu dan amal satu paket. Falsafah kehidupan inj tentu saja diambil dari nilai-nilai Islam.
Di sisi lain, santri juga selalu mencari keberkahan dari para kiai. Ini menjadi ciri khas tersendiri, apalagi nilai keberkahan ini belum diserap oleh lembaga pendidikan umum. Di samping itu, para santri tak hanya dididik untuk mendalami suatu bidang ilmu, tapi mereka turut dikader untuk mendapatkan keberkahan ilmu itu sendiri.
"Karena ilmu tanpa keberkahan tidak akan memberikan kebahagiaan di dunia, apalagi keselamatan di akhirat dalam kamus para santri. Keberkahan begitu penting," kata Habib Ja'far melalui kanal
YouTube Jeda Nulis, dikutip Jumat (28/1/2022).
Seorang santri akan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan keberkahan dari Allah melalui khidmat kepada guru. Mulai dari hal-hal kecil, seperti membalikkan arah sandal kiai agar tidak kesusahan saat hendak dipakai kembali. Kerap pula didapati santri meminum bekas sisa minuman kiai guna mengharapkan keberkahan.
Para santri memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada kiai. Bukan hanya saat bertemu, saat tidak bertemu pun demikian. Tak hanya saat mondok, rasa hormat itu akan terus terbawa meski sudah berkarir di luar pesantren.
"Setelah keluar, penghormatan kepada kiai masih dijaga, karena mereka mengharapkan keberkahan dari kiai atas ilmu yang sudah diajarkan. Inilah keunikan identitas utama seorang santri, yang menyebabkan mereka sangat kuat sebagai satu identitas keilmuan," tutur Habib Ja'far.
(jqf)