Rahasia Santri ‘Preman’ ini Dulang Banyak Prestasi
Muhajirin
Jum'at, 19 November 2021 - 22:02 WIB
Trophy dan piala hasil prestasi santri Ponpes Raudhatul Hasanah (foto: langit7.id/Muhajirin)
Menanamkan nilai-nilai Islam jauh lebih penting daripada sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan. Hal itu yang diterapkan KH Abdul Mu’min (Kiai Maung) kepada para santri Raudlatul Hasanah, Subang, Jawa Barat. Mayoritas santri di pesantren ini berasal dari anak jalanan dan mantan preman. Tapi kebersihan dan kemandirian mereka tak bisa diremehkan. Mereka mampu menepis anggapan bahwa pesantren identik dengan jorok, kotor, dan tidak rapi. Seolah kebersihan menjadi tantangan utama setiap pesantren.
Baca Juga:Kemandirian Santri Raudhatul Hasanah, Kelola Peternakan Hingga Bangun Fasilitas Sendiri
“Bagaimana bisa menjadi pemimpin kalau bertanggung jawab pada satu sampah saja tidak bisa. Makanya, santri itu dididik keras untuk menjaga kebersihan,” kata Kiai Maung ketika berbincang dengan LANGIT7.ID di Pondok Pesantren Raudlatul Hasanah, Rabu (17/11/2021).
Kebersihan ini menjadi pendidikan paling utama. Santri harus menjaga kebersihan. Mereka tidak mungkin mendapatkan ilmu jika tidak memperhatikan hal-hal yang membuat ilmu bermanfaat, yakni kebersihan.
Hal itu dikarenakan segala aktivitas ibadah, mulai dari shalat hingga membaca Al-Qur’an harus diawali dengan bersuci. Artinya, jika seseorang shalat dalam keadaan tidak suci, maka ibadah yang menjadi tiang agama itu tidak diterima di sisi Allah.
Contoh paling konkret peternakan yang dikelola para santri. Tak perlu berharap ada sisa-sisa sampah yang berserakan di sekitar kandang. Tiap kali selesai beri pakan, sisa-sisa kotoran langsung dibersihkan. Menyoal tempat ibadah tak perlu dipertanyakan lagi. Meski memiliki arsitektur terbuka, masjid Raudlatul Hasanah selalu nyaman untuk beribadah.
Beralih ke toilet pun demikian. Tidak ada rasa jijik jika menginjakkan kaki di tempat tersebut. Kamar-kamar santri juga begitu. Lemari tertata rapi, pakaian tak tergeletak sembarangan, serta lantai dan tembok yang memanjakan mata.
Baca Juga:Kemandirian Santri Raudhatul Hasanah, Kelola Peternakan Hingga Bangun Fasilitas Sendiri
“Bagaimana bisa menjadi pemimpin kalau bertanggung jawab pada satu sampah saja tidak bisa. Makanya, santri itu dididik keras untuk menjaga kebersihan,” kata Kiai Maung ketika berbincang dengan LANGIT7.ID di Pondok Pesantren Raudlatul Hasanah, Rabu (17/11/2021).
Kebersihan ini menjadi pendidikan paling utama. Santri harus menjaga kebersihan. Mereka tidak mungkin mendapatkan ilmu jika tidak memperhatikan hal-hal yang membuat ilmu bermanfaat, yakni kebersihan.
Hal itu dikarenakan segala aktivitas ibadah, mulai dari shalat hingga membaca Al-Qur’an harus diawali dengan bersuci. Artinya, jika seseorang shalat dalam keadaan tidak suci, maka ibadah yang menjadi tiang agama itu tidak diterima di sisi Allah.
Contoh paling konkret peternakan yang dikelola para santri. Tak perlu berharap ada sisa-sisa sampah yang berserakan di sekitar kandang. Tiap kali selesai beri pakan, sisa-sisa kotoran langsung dibersihkan. Menyoal tempat ibadah tak perlu dipertanyakan lagi. Meski memiliki arsitektur terbuka, masjid Raudlatul Hasanah selalu nyaman untuk beribadah.
Beralih ke toilet pun demikian. Tidak ada rasa jijik jika menginjakkan kaki di tempat tersebut. Kamar-kamar santri juga begitu. Lemari tertata rapi, pakaian tak tergeletak sembarangan, serta lantai dan tembok yang memanjakan mata.