LANGIT7.ID, Subang - Rabu sore (17/11/2021), Ahmad Rifai terlihat sibuk di peternakan kambing milik Pesantren Raudhatul Hasanah, Subang, Jawa Barat. Pakaiannya masih basah, usai menembus hujan demi mengambil pakan ternak. Ia merupakan salah satu mantan anak jalanan yang ikut nyantri dengan Kiai Haji Muhammad Abdul Mu’min (Kiai Maung) di Pesantren Raudhatul Hasanah.
Tak berhenti sampai disitu, meski butir-butir bening masih membasahi bumi, ia lanjut membersihkan selokan depan masjid. Rifai melakoni pekerjaan itu tanpa rasa beban sedikitpun. Keikhlasan terpancar jelas dari wajah pemuda 24 tahun tersebut.
Pesantren ini memang mendidik para santri untuk mandiri. Semua santri tidak dipungut biaya, tapi satu syarat, mereka harus bekerja untuk mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Itu salah satu pendidikan karakter yang diterapkan Kiai Maung di Pesantren Raudhatul Hasanah.
Semua bangunan di pesantren itu dibangun oleh para santri. Mulai dari asrama, masjid, rumah untuk tamu, aula, hingga fasilitas olahraga. “Saya katakan ke mereka, kalau mau punya tempat tinggal enak, bangun sendiri,” kata Kiai Maung saat berbincang dengan LANGIT7.ID di Pesantren Raudhatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (17/11/2021).
Baca Juga: Pesantren Raudhatul Hasanah Subang, The Real Pesantren Rock and Roll
Soal dana, Kiai Maung tak pernah pusing. “Ada Allah,” kata dia menegaskan. Ia hanya bermodal ikhlas dan tawakal. Itu juga yang diajarkan kepada santri. Shalat menjadi tiang utama untuk melakoni kehidupan dunia, ditambah dzikir agar hati selalu terpaut dengan Allah. Kedekatan dengan Allah yang membuat rezeki mudah datang.
Cara itu terbilang sangat efektif. Terbukti, banyak bantuan masuk tanpa sepengetahuan Kiai Maung. “Bahkan yang yang membebaskan tanah pesantren ini, saya belum ketemu sampai sekarang,” katanya.
Dia menegaskan, mendidik santri untuk mandiri bukan sekadar bisa cuci dan mandi sendiri. Santri harus belajar menghidupi dirinya sendiri. Terlebih, kata dia, santri-santri yang ia bina sebenarnya orang-orang cerdas. Meski berlatar belakang mantan preman, tapi ada kecerdasan yang tak pernah diarahkan.
“Jadi preman itu harus pintar, misalnya mencuri, harus cari cara agar tidak tertangkap polisi,” ucapnya. Kiai Maung melihat itu sebagai modal besar. Anak-anak remaja itu hanya tak mendapatkan arahan, sehingga terjebak dalam pergaulan salah.
Para santri pernah berada di lingkungan yang sangat keras. Dari situ mental mereka tak manja. Mental itu tinggal disentuh dengan nilai-nilai Islam, sehingga terarah dengan baik. Seperti Umar bin Khattab di era Nabi Muhammad. Umar orang keras, sudah khatam maksiat. Namun, saat hatinya tersentuh hidayah Islam, ia selalu berada di garda terdepan membela agama.
Setelah menanamkan pendidikan karakter kepada santri, Kiai Maung tinggal mendidik mereka dengan skill berdakwah. Terutama berdakwah yang mengedepankan keteladanan. Ini agar kelak mereka bisa mengajak remaja-remaja yang dipandang sebelah mata untuk kembali ke jalan-Nya.
“Artinya kita mengangkat rongsokan jadi berlian. Kalau orang baik mondok, keluar jadi baik, kan biasa. Makanya saya turun ke terminal,” ucapnya.
Baca Juga: Cara Kiai Maung Sentuh Hati Preman dan Anak Jalanan, Ajak Kembali ke Jalan HidayahTiga Dimensi PendidikanKiai Maung menerapkan tiga dimensi pendidikan di pesantren ini yakni agama, olahraga, dan seni. Di bidang olahraga, Tiap pagi lari sambil membersihkan sampah warga sekitar. Sore berolahraga. Ada pula pencak silat, panjat tebing, sepakbola, hingga tenis meja. “Mereka harus jadi petarung,” katanya.
Di bidang seni, santri belajar marawis, kaligrafi, hingga teranyar ada pembangunan galeri untuk produksi kaos santri. Ada pula kelas jurnalistik. Di bidang agama, santri diajari Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqih, dan sentuhan tasawuf.
“Santri perlu tasawuf, artinya untuk mengenal diri. Karena untuk meluruskan, melembutkan hati mereka itu dengan tasawuf,” ucap santri.
Bahkan, santri-santri Raudhatul Hasanah sudah mengoleksi banyak prestasi. Misalnya juara II film dokumenter Hari Santri Nasional, juara I lomba marawis tingkat nasional, hingga juara di bidang olahraga pencak silat, dan lain sebagainya.
(jqf)