LANGIT7.ID, Subang - Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, KH Abdul Mu’min (Kiai Maung) memiliki cara tersendiri mengajak anak-anak jalanan hingga preman mau kembali ke jalan hidayah dan belajar Islam.
Kiai Maung merupakan mantan preman. Itulah yang membuat dia tahu cara merebut hati orang-orang yang hidup di jalanan. Saat memimpin pondok pesantren pun, ia mendedikasikan hidupnya untuk mengayomi orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
Baca Juga: Kisah Kiai Maung, Kiai Sangar Mantan Preman Dirikan Pesantren untuk Preman
Sejak kecil ia sudah hidup di lingkungan keras. Namun, ada hikmah di balik itu semua. Sebuah pelajaran hidup yang tak semua orang miliki. Mungkin tahu, tapi tak bisa memahami. Seperti sisi-sisi kebaikan yang dimiliki pemuda-pemuda yang hidup di jalanan.
Mereka punya solidaritas tinggi. Hanya saja belum diarahkan untuk kebaikan. Demikian pula, sisi kemanusiaan yang sangat kuat. Seperti yang dialami Kiai Maung saat masih remaja di di Semarang. Kala itu, ia dipalak preman. Namun, setelah mengobrol panjang lebar, para preman-preman itu justru memberikan tumpangan dan makan tiap hari.
Padahal, mereka hanya kuli panggul di pasar-pasar. “Tapi mereka rela memberi saya makan dari hasil kerja mereka,” kata Kiai Maung saat berbincang dengan LANGIT7.ID di Pesantren Raudlatul Hasanah, Subang, Jawa Barat, Rabu (17/11/2021).
Menurut Kiai Maung, cara merebut hati orang jalanan harus dengan cara halus dan lembut. Tidak frontal mengeluarkan dalil tentang halal-haram ke mereka. Mental keras dari jalanan membuat mereka sensitif dengan larangan.
“Saya punya aksesoris preman, lengkap,” ucapnya. Ia memakai aksesoris itu untuk bergaul dengan mereka. Dari obrolan-obrolan santai, ia menyisipkan nilai-nilai Islam.
Suatu ketika, Kiai Maung tengah berkumpul dengan anak jalanan di terminal. Ia ikut alur pembicaraan mereka. Berbicara soal premanisme dan lain sebagainya, ia ladeni. Namun, di akhir obrolan ia selipkan pesan-pesan spiritual.
“Saya katakan, ‘tapi akhirnya kita mati,” ucap Kiai Maung. Satu kalimat itu jauh lebih efektif daripada menyuguhkan mereka banyak dalil. Biar bagaimanapun, anak jalanan adalah manusia berakal. Naluri kebaikan selalu ada dalam hatinya. Sebab, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Fitrah artinya kecenderungan mengagungkan Tuhan. Hanya saja, sedikit pendakwah yang ingin berada di tengah-tengah mereka. Hal itu yang menyebabkan mereka tak mengenal ajaran Islam.
Seperti yang terjadi pada Ahmad Rifai (24), salah satu santri Raudlatul Hasanah. Ia telah hidup di jalanan sejak masih remaja. Bahkan, pria asal Purwakarta itu pernah tak pulang hingga 3 tahun. Ia hidup dari terminal ke terminal.
Suatu ketika di Sukabumi, Jawa Barat, Rifai mengiyakan ajakan untuk ngaji di salah satu masjid. “Ada teman yang ngomong, masa kita begini terus, sekali-kali kita ngaji-lah,” katanya saat berbincang dengan LANGIT7.ID.
Rifai mengiyakan ajakan itu. secara kebetulan, pengisi ceramah di masjid yang ia tuju adalah Kiai Maung. Ia mengaku tersentuh dengan pesan-pesan yang disampaikan sosok kiai yang dikenal nyentrik itu. Lama ia berpikir. Kerap bayang kematian datang saat hendak memejam mata.
Pikiran itu membuat Rifai pulang ke rumah di Purwakarta. “Saya ngomong ke orang tua, ‘saya mau jadi orang baik’,” ucapnya.
Orang tua Rifai balik bertanya tentang hal tersebut. Ia lalu meyakinkan orang tuanya untuk nyantri di Pondok Pesantren Raudlatul Hasanah. “Akhirnya saya jadi santri di sini sejak tahun kemarin (2020),” ucap Rifai.
Baca Juga: Pesantren Raudhatul Hasanah Subang, The Real Pesantren Rock and Roll
Pengalaman serupa banyak dialami santri-santri di pesantren tersebut. Mayoritas mereka tersentuh dengan cara Kiai Maung berdakwah. Tak ada yang dibeda-bedakan. Ia ikut nongkrong. Demikian pula anak-anak terminal. Meski tak mondok, tapi mereka aktif silaturahmi ke Raudlatul Hasanah untuk mengecas iman.
“Kita juga membina anak-anak jalanan. Jadi, mereka semua itu santri-santri,” kata Kiai Maung.
(jqf)