LANGIT7.ID, JAKARTA - Abdur Raheem Green pria asal Inggir kelahiran Tanzania ini memilih memeluk Islam pada 1988, dan telah menjadi seorang pendakwah di Inggris. Pertemuan Green dengan Islam terjadi ketika dia berada di Mesir, dan tengah memberi kuliah tentang "Wahyu Terakhir Tuhan".
"Saya lahir dari orang tua asal Inggris dari Tanzania pada tahun 1964. Ayah saya Gavin Green adalah seorang administrator kolonial di kerajaan Inggris," kata Green melansir About Islam, Ahad (29/1/2023).
Lebih lanjut, Green menyebut dirinya kemudian bergabung bersama Barclays Bank di tahun 1978 serta dikirim ke Mesir untuk mendirikan Bank Barclays Mesir. "Saya dididik di Sekolah Biara Katolik Roma yang terkenal, Ampleforth College, dan melanjutkan studi sejarah di Universitas London," ujarnya.
Kendati demikian, pendidikan tersebut tidak ditempuh hingga selesai Green karena dia memilih untuk meninggalkan pendidikan sebelum pendidikan tersebut selesai.
"Saat ini saya bekerja di sebuah peruusahaan media Islam di Inggris dan terlibat dalam kegiatan dakwah, termasuk ceramah tentang Islam di Hyde Park yang terkenal di London," kata Green.
Baca Juga: Timothy Winter, Cucu Pendeta Jadi Ulama Besar Penopang Dakwah di InggrisSelain itu, Green juga mulai mempelajari Al-Qur'an dan langsung menarik minatnya. Baginya, Al-Qur'an mempunyai daya tarik magis dan membuatnya semakin yakin bahwa Al-Qur'an adalah wahyu ilahi.
"Saya percaya hanya Allah yang membimbing saya, tidak ada yang lain. Saya tidak tahu apa yang membuat saya pantas mendapatkan Islam. Saya tidak puas dengan agama Kristen sejak usia delapan tahun," katanya.
Menurut dia, hal yang membuatnya tidak puas adalah terkait konsep yang diajarkan kepadanya, salah satunya melalui sajak seperti Salam Maria yang sama sekali tidak dapat dia terima.
Sementara di satu sisi kata Green, orang-orang Kristen menggambarkan Tuhan itu kekal dan tak terbatas, mereka tidak merasa menyesal dalam menganggap kelahiran Tuhan dari rahim Maria.
"Ini membuat saya berpikir bahwa Maria pasti lebih besar dari Tuhan. Kedua, konsep Kristen tentang trinitas membingungkan saya. Kemiripan seperti daun Maple Kanada menjadi satu meskipun ada tiga bagian yang tampaknya sama sekali tidak dapat diterapkan," ujarnya.
Tak hanya itu, kegentingan kemudian datang ketika seorang Mesir mulai menanyainya, tentang kepercayaan Kristen. Dia selalu mencoba untuk menjadi dogmatis, yakni seperti yang dilakukan kebanyakan orang kulit putih, kelas menengah, orang Kristen Inggris.
"Saya bingung ketika dia membuat saya menerima bahwa Tuhan mati di atas salib, dengan demikian mengungkapkan kehampaan klaim Kristen tentang keabadian dan ketidakterbatasan Tuhan," katanya.
Baca Juga: Eti Trisia Temukan Hidayah Lewat Mimpi dan BersyahadatDengan begitu, dia menyadari bahwa saat itu dirinya mempercayai pada konsep yang absurd. "Saya menemukan orang Eropa banyak berjuang untuk menikmati hidup. Mereka tidak memiliki tujuan hidup yang lebih tinggi," ujar Green.
Di sisi lain, Green melihat orang Mesir miskin, menderita kesulitan, akan tetapi bahagia. Orang Mesir meninggalkan segalanya di tangan Tuhan dan melupakan kesengsaraan saat kembali ke rumah.
"Doa membantu mereka menempatkan kekhawatiran mereka di hadapan Tuhan mereka. Saya melihat kerendahan hati serta keintiman dalam doa Islam," ujarnya.
Menurut Green, hal yang berbeda terjadi di Inggris Grren menemukan orang-orang yang dangkal dan materialistis. Mereka mencoba untuk bahagia tetapi kebahagiaan itu dangkal. "Doa mereka menggabungkan nyanyian, tarian, tepuk tangan tetapi tidak ada kerendahan hati, atau keintiman dengan Tuhan," tuturnya.
(zhd)