Pesantren Jamsaren, Berawal dari Surau Kecil Berperan Besar Melawan Penjajah
Muhajirin
Senin, 19 Juli 2021 - 09:30 WIB
Bangunan Pondok Pesantren Jamsaren hari ini (foto: penasantri.id)
Pondok Pesantren Jamsaren menjadi salah satu pondok pesantren tertua di Pulau Jawa. Pesantren yang terletak di Jalan Veteran 263 Serengan Solo itu sudah berdiri sejak 1750 M dan sudah melahirkan banyak tokoh nasional.
Semula, pondok pesantren yang berdiri pada masa pemerintahan Pakubuwono IV itu hanya berupa surau kecil yang sering digunakan pada jamuan masa pemerintahan Pakubuwono IV. Kala itu, Pakubuwono mendatangkan para ulama, diantaranya Kiai Jamsari dari Banyumas dan Kiai Hasan dari Gabudan Surakarta. Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang. Nama tersebut dibiarkan melekat agar pondok tersebut tetap terjaga sejarahnya.
Setelah Kiai Jamsari wafat, ia digantikan putranya yang bernama Kiai Jamsari II. Dalam perjalanannya, Ponpes Jamsaren pernah mengalami masa vakum seiring perjuangan kemerdekaan kala itu.
Jamsaren vakum setelah Belanda menjebak dan menangkap Pangeran Diponegoro pada 1830. Para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro dan Pakubuwono VI di Surakarta bersembunyi keluar dari wilayah Surakarta ke daerah lain. Termasuk Kiai Jamsari II dan santrinya yang mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro dan Pakubuwono VI. Kondisi ini membuat pondok Jamsaren menjadi kosong selama sekitar 50 tahun lamanya.
Kemudian, pada 1878,seorang Kiai alim dari Klaten bernama Kiai Idris yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, membangun kembali surau yang kemudian menjadi pesantren tersebut.
Kiai Idris masih keturunan Kiai Imam Rozi yang merupakan sahabat Kiai Jamsari II dan Kiai Mojo yang sama-sama melawan Belanda bersama Pangeran Diponegoro. Beliau juga murid dari Kiai Sholeh Darat dari Semarang. Dia juga diminta pihak Keraton Solo diminta membangun kembali Pondok Jamsaren.
Pada saat itu, bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Materi yang diajarkan pun semakin banyak, seperti kajian kitab kuning berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon yakni bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab. di antaranya, Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawuf. Metode pengajaran pun dengan cara sorogan yakni maju satu per satu, sebagian yang lain dengan cara wekton atau bandongan yakni secara berkelompok, masing-masing santri membawa kitab sendiri.
Semula, pondok pesantren yang berdiri pada masa pemerintahan Pakubuwono IV itu hanya berupa surau kecil yang sering digunakan pada jamuan masa pemerintahan Pakubuwono IV. Kala itu, Pakubuwono mendatangkan para ulama, diantaranya Kiai Jamsari dari Banyumas dan Kiai Hasan dari Gabudan Surakarta. Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang. Nama tersebut dibiarkan melekat agar pondok tersebut tetap terjaga sejarahnya.
Setelah Kiai Jamsari wafat, ia digantikan putranya yang bernama Kiai Jamsari II. Dalam perjalanannya, Ponpes Jamsaren pernah mengalami masa vakum seiring perjuangan kemerdekaan kala itu.
Jamsaren vakum setelah Belanda menjebak dan menangkap Pangeran Diponegoro pada 1830. Para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro dan Pakubuwono VI di Surakarta bersembunyi keluar dari wilayah Surakarta ke daerah lain. Termasuk Kiai Jamsari II dan santrinya yang mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro dan Pakubuwono VI. Kondisi ini membuat pondok Jamsaren menjadi kosong selama sekitar 50 tahun lamanya.
Kemudian, pada 1878,seorang Kiai alim dari Klaten bernama Kiai Idris yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, membangun kembali surau yang kemudian menjadi pesantren tersebut.
Kiai Idris masih keturunan Kiai Imam Rozi yang merupakan sahabat Kiai Jamsari II dan Kiai Mojo yang sama-sama melawan Belanda bersama Pangeran Diponegoro. Beliau juga murid dari Kiai Sholeh Darat dari Semarang. Dia juga diminta pihak Keraton Solo diminta membangun kembali Pondok Jamsaren.
Pada saat itu, bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Materi yang diajarkan pun semakin banyak, seperti kajian kitab kuning berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon yakni bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab. di antaranya, Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawuf. Metode pengajaran pun dengan cara sorogan yakni maju satu per satu, sebagian yang lain dengan cara wekton atau bandongan yakni secara berkelompok, masing-masing santri membawa kitab sendiri.