Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 23 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Pesantren Jamsaren, Berawal dari Surau Kecil Berperan Besar Melawan Penjajah

Muhajirin Senin, 19 Juli 2021 - 09:30 WIB
Pesantren Jamsaren, Berawal dari Surau Kecil Berperan Besar Melawan Penjajah
Bangunan Pondok Pesantren Jamsaren hari ini (foto: penasantri.id)
LANGIT7.ID - Pondok Pesantren Jamsaren menjadi salah satu pondok pesantren tertua di Pulau Jawa. Pesantren yang terletak di Jalan Veteran 263 Serengan Solo itu sudah berdiri sejak 1750 M dan sudah melahirkan banyak tokoh nasional.

Semula, pondok pesantren yang berdiri pada masa pemerintahan Pakubuwono IV itu hanya berupa surau kecil yang sering digunakan pada jamuan masa pemerintahan Pakubuwono IV. Kala itu, Pakubuwono mendatangkan para ulama, diantaranya Kiai Jamsari dari Banyumas dan Kiai Hasan dari Gabudan Surakarta. Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang. Nama tersebut dibiarkan melekat agar pondok tersebut tetap terjaga sejarahnya.

Setelah Kiai Jamsari wafat, ia digantikan putranya yang bernama Kiai Jamsari II. Dalam perjalanannya, Ponpes Jamsaren pernah mengalami masa vakum seiring perjuangan kemerdekaan kala itu.

Jamsaren vakum setelah Belanda menjebak dan menangkap Pangeran Diponegoro pada 1830. Para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro dan Pakubuwono VI di Surakarta bersembunyi keluar dari wilayah Surakarta ke daerah lain. Termasuk Kiai Jamsari II dan santrinya yang mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro dan Pakubuwono VI. Kondisi ini membuat pondok Jamsaren menjadi kosong selama sekitar 50 tahun lamanya.

Kemudian, pada 1878,seorang Kiai alim dari Klaten bernama Kiai Idris yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, membangun kembali surau yang kemudian menjadi pesantren tersebut.

Kiai Idris masih keturunan Kiai Imam Rozi yang merupakan sahabat Kiai Jamsari II dan Kiai Mojo yang sama-sama melawan Belanda bersama Pangeran Diponegoro. Beliau juga murid dari Kiai Sholeh Darat dari Semarang. Dia juga diminta pihak Keraton Solo diminta membangun kembali Pondok Jamsaren.

Pada saat itu, bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Materi yang diajarkan pun semakin banyak, seperti kajian kitab kuning berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon yakni bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab. di antaranya, Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawuf. Metode pengajaran pun dengan cara sorogan yakni maju satu per satu, sebagian yang lain dengan cara wekton atau bandongan yakni secara berkelompok, masing-masing santri membawa kitab sendiri.

Pada 1908, mushola yang masih berdinding ala kadarnya diganti dengan bangunan masjid dengan dinding tembok. Pada 1913, sistem pengajian sorogan juga diganti dengan sistem kelas.

Pada 1923, saat Kiai Idris wafat, pimpinan Ponpes Jamsaren kemudian diganti KH Abu Amar. Pada 1965 KH Abu Umar wafat dan digantikan oleh salah satu putranya yakni KH Ali Darokah.

Pondok Jamsaren mulai 1965-1997, secara langsung dipimpin oleh KH. Ali Darokah yang dibantu pengurus pondok. Struktur pondok terdiri dari lurah pondok, sekretaris. bendahara, wali santri pondok, staf pengajar, staf keamanan, dan staf dakwah.

Setelah KH Ali Darokah wafat, pengelolaan pondok diserahkan kepada pengurus harian pondok dan pengurus pelaksana harian pondok. Pada periode ini, selain pengajian sistem kelas dengan materi pelajaran agama, juga diberi materi pelajaran umum untuk menunjang prestasi santri.

Sebagai salah satu pesantren yang menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, Jamsaren selalu menyesuaikan sistem pendidikan agar bisa memberikan yang terbaik kepada para santri.

Jamsaren tetap menawarkan alternatif sistem pendidikan untuk santri yang ingin fokus memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Namun, santri tetap dibekali pendidikan formal agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa ulama dan pemimpin yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.

Ponpes Jamsaren saat ini tidak semata-mata hanya pondok pesantren saja. Namun sudah menjadi sebuah yayasan. Ada. TK, SD, MI, MTs, MA dan ponpes itu sendiri. Santri yang bermukim di pondok adalah anak-anak yang juga mengambil sekolah formal dan sisa waktunya mendapatkan materi diniyah, mulai dari tahfidz, fiqih, bahasa Arab dan lainnya.

Sekolah formal yang ada di Yayasan Jamsaren pun menjadi salah satu favorit masyarakat, karena punya nilai sejarah yang tak bisa dilupakan. Bahkan, tiap sekolah memiliki ratusan peserta didik. Salah satu keunggulan yang tidak pernah luntur yang mereka miliki adalah keunggulan akademis dan keagamaan.

Hal terpenting dan yang tidak pernah berubah dari Jamsaren adalah Jamsaren berdiri di atas semua golongan dan mewadahi semua unsur atau kelembagaan Islam yang ada.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 23 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)