Mimbar Langit 7
Andrian Pauline: Esport Alternatif Hiburan Masa Depan
Jaja Suhana
Selasa, 30 November 2021 - 11:52 WIB
Co Founder dan CEO RRQ Andrian Pauline. Foto: Istimewa
Pengaruh industri esports di Indonesia begitu terasa dengan maraknya kompetisi nasional dan internasional. Pertumbuhan tersebut berdampak pula pada kemunculan tim-tim esport yang menawarkan pemain terbaiknya.
Co Founder dan CEO RRQ Andrian Pauline pertama kali mendirikan bisnisnya tak melihat potensi esport jauh ke depan. Pertama kali berdiri pada 2013, RRQ terbentuk hanya sebatas hobi.
Baca juga: Perkembangan Industri eSports di Indonesia Hingga Lahirnya Tim Jawara
"Awal berdiri ini hanya sebagai hobi, tidak berpikir bisa sebesar ini. Kami tidak berorientasi bisnis," kata pria yang akrab disapa AP di webinar "Membidik Industri Esports di Indonesia", Selasa (30/11/2021), yang diadakan Langit7.id.
Namun, kemudian pada 2017, pria yang akrab disapa AP ini melihat esports menjadi bisnis yang menjanjikan. Kemudian ia mengambil strategi serius dengan membentuk manajemen dan merekrut profesional. Langkah tersebut dilakukan AP setelah melihat perkembangan industri yang sangat pesat di luar negeri.
"Berbeda dengan tahun 2013 dimana kami hanya memiliki satu tim. Di tahun 2017, kami memiliki 4-5 tim," jelasnya.
Berbeda dengan olahraga konvensional, dalam esports sebuah tim dibentuk untuk fokus pada satu gim saja.
Co Founder dan CEO RRQ Andrian Pauline pertama kali mendirikan bisnisnya tak melihat potensi esport jauh ke depan. Pertama kali berdiri pada 2013, RRQ terbentuk hanya sebatas hobi.
Baca juga: Perkembangan Industri eSports di Indonesia Hingga Lahirnya Tim Jawara
"Awal berdiri ini hanya sebagai hobi, tidak berpikir bisa sebesar ini. Kami tidak berorientasi bisnis," kata pria yang akrab disapa AP di webinar "Membidik Industri Esports di Indonesia", Selasa (30/11/2021), yang diadakan Langit7.id.
Namun, kemudian pada 2017, pria yang akrab disapa AP ini melihat esports menjadi bisnis yang menjanjikan. Kemudian ia mengambil strategi serius dengan membentuk manajemen dan merekrut profesional. Langkah tersebut dilakukan AP setelah melihat perkembangan industri yang sangat pesat di luar negeri.
"Berbeda dengan tahun 2013 dimana kami hanya memiliki satu tim. Di tahun 2017, kami memiliki 4-5 tim," jelasnya.
Berbeda dengan olahraga konvensional, dalam esports sebuah tim dibentuk untuk fokus pada satu gim saja.