Wawancara Eksklusif Prof Nasaruddin: Masjid Rumah Besar Bangsa Indonesia
Jaja Suhana
Sabtu, 04 Desember 2021 - 10:11 WIB
Masjid Istiqlal Jakarta. Foto: iStock.
Masjid Istiqlal yang terletak di jantung Ibu Kota Jakarta telah selesai direnovasi setelah 42 tahun silam masjid tersebut dibangun. Renovasi dengan biaya Rp511 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) ini bukan saja pada aspek infrastruktur dan bangunan an sich, tapi juga fungsi masjid secara integral.
Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nasaruddin Umar, menginginkan agar masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah, namun juga menjadi Islamic Centre atau pusat kegiatan masyarakat muslim. Semua gagasan tersebut terangkum dalam buku Prof Nasaruddin "23 Fungsi Masjid Nabi" yang dapat menjadi prototipe masjid-masjid di Indonesia.
Perlahan tapi pasti, Istiqlal melakukan transformasi kelembagaan dan instrumen yang dapat wewujudkan cita-cita tersebut, mulai dari pendidikan kader ulama Masjid Istiqlal (PKU MI) jenjang S2-S3, menyediakan fasilitas sport center, gym center, lembaga kesenian, lembaga penyelia halal hingga sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang melibatkan lima kementerian dan lembaga. Redaksi Langit7 berkesempatan melakukan silaturahmi dan wawancara dengan Prof Nasaruddin di sela-sela aktivitasnya. Berikut kutipannya untuk Anda:
Bagaimana Prof melihat fungsi masjid saat ini?
Iya, kita kan mencontoh masjid nabi, lihat saja Istiqlal, di masjid ini kita melting pot atau lembaga pelebur umat. Jadi lupakan perbedaan, di sini kita dialog rutin setiap bulan dengan berbagai kalangan yang berbeda. Apapun mazhab, apapun agamanya, sesungguhnya masjid itu rumah besar bagi bangsa Indonesia.
Artinya, masjid jangan jadi faktor pemecah belah umat, tetapi menjadi tempat pemersatu. Masjid juga jangan hanya bicara agama, tapi harus bicara kebangsaan, apa sumbangsih yang dapat dilakukan untuk kemajuan bangsa Indonesia, sehingga bangsa ini dapat menjadi negara maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain, dan bangsa ini sedang mengarah ke sana.
Lalu terobosan apa saja yang dilakukan Masjid Istiqlal selama ini?
Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nasaruddin Umar, menginginkan agar masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah, namun juga menjadi Islamic Centre atau pusat kegiatan masyarakat muslim. Semua gagasan tersebut terangkum dalam buku Prof Nasaruddin "23 Fungsi Masjid Nabi" yang dapat menjadi prototipe masjid-masjid di Indonesia.
Perlahan tapi pasti, Istiqlal melakukan transformasi kelembagaan dan instrumen yang dapat wewujudkan cita-cita tersebut, mulai dari pendidikan kader ulama Masjid Istiqlal (PKU MI) jenjang S2-S3, menyediakan fasilitas sport center, gym center, lembaga kesenian, lembaga penyelia halal hingga sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang melibatkan lima kementerian dan lembaga. Redaksi Langit7 berkesempatan melakukan silaturahmi dan wawancara dengan Prof Nasaruddin di sela-sela aktivitasnya. Berikut kutipannya untuk Anda:
Bagaimana Prof melihat fungsi masjid saat ini?
Iya, kita kan mencontoh masjid nabi, lihat saja Istiqlal, di masjid ini kita melting pot atau lembaga pelebur umat. Jadi lupakan perbedaan, di sini kita dialog rutin setiap bulan dengan berbagai kalangan yang berbeda. Apapun mazhab, apapun agamanya, sesungguhnya masjid itu rumah besar bagi bangsa Indonesia.
Artinya, masjid jangan jadi faktor pemecah belah umat, tetapi menjadi tempat pemersatu. Masjid juga jangan hanya bicara agama, tapi harus bicara kebangsaan, apa sumbangsih yang dapat dilakukan untuk kemajuan bangsa Indonesia, sehingga bangsa ini dapat menjadi negara maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain, dan bangsa ini sedang mengarah ke sana.
Lalu terobosan apa saja yang dilakukan Masjid Istiqlal selama ini?