LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Istiqlal yang terletak di jantung Ibu Kota Jakarta telah selesai direnovasi setelah 42 tahun silam masjid tersebut dibangun. Renovasi dengan biaya Rp511 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) ini bukan saja pada aspek infrastruktur dan bangunan an sich, tapi juga fungsi masjid secara integral.
Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr Nasaruddin Umar, menginginkan agar masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah, namun juga menjadi Islamic Centre atau pusat kegiatan masyarakat muslim. Semua gagasan tersebut terangkum dalam buku Prof Nasaruddin "23 Fungsi Masjid Nabi" yang dapat menjadi prototipe masjid-masjid di Indonesia.
Perlahan tapi pasti, Istiqlal melakukan transformasi kelembagaan dan instrumen yang dapat wewujudkan cita-cita tersebut, mulai dari pendidikan kader ulama Masjid Istiqlal (PKU MI) jenjang S2-S3, menyediakan fasilitas sport center, gym center, lembaga kesenian, lembaga penyelia halal hingga sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang melibatkan lima kementerian dan lembaga. Redaksi Langit7 berkesempatan melakukan silaturahmi dan wawancara dengan Prof Nasaruddin di sela-sela aktivitasnya. Berikut kutipannya untuk Anda:
Bagaimana Prof melihat fungsi masjid saat ini?Iya, kita kan mencontoh masjid nabi, lihat saja Istiqlal, di masjid ini kita
melting pot atau lembaga pelebur umat. Jadi lupakan perbedaan, di sini kita dialog rutin setiap bulan dengan berbagai kalangan yang berbeda. Apapun mazhab, apapun agamanya, sesungguhnya masjid itu rumah besar bagi bangsa Indonesia.
Artinya, masjid jangan jadi faktor pemecah belah umat, tetapi menjadi tempat pemersatu. Masjid juga jangan hanya bicara agama, tapi harus bicara kebangsaan, apa sumbangsih yang dapat dilakukan untuk kemajuan bangsa Indonesia, sehingga bangsa ini dapat menjadi negara maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain, dan bangsa ini sedang mengarah ke sana.
Lalu terobosan apa saja yang dilakukan Masjid Istiqlal selama ini?Iya, kita me-launching beberapa program di Istiqlal, di antaranya lembaga kaderisasi ulama perempuan, itu yang sangat viral sekarang dan pertama di dunia. Ulama perempuan harus diberdayakan, karena lebih dari separuh umat kita lemah jika ulama perempuannya tidak kuat secara keilmuan. Para peserta bukan seluruhnya perempuan, tapi kurikulumnya lebih berbasis kesetaraan gender.
Kita juga punya sport center kerja sama dengan Kasad (Kepala Staf Angkatan Darat) sebelumnya, yakni Pak Andika, disediakan alat-alat kebugaran yang lengkap di masjid, kita punya gym center, selain itu kita juga mengadakan latihan bela diri tapak suci dan pencak silat. Jadi masjid bukan hanya menyehatkan batin, juga menyehatkan raga.
Kemudian masjid istiqlal ini punya TV Istiqlal, jadi apa yang ada di sini kita pancarkan ke hampir 18 ribu masjid, kita juga sedang merintis e-Mousque, e-Market, kita punya panel surya sebagai penerangan 24 jam, ada 140 CCTV keamanan geometri pendeteksi wajah. Istiqlal juga dilengkapi dengan pemadam kebakaran dan balai pertemuaan, ada juga museum dan madrasahnya, mulai dari TK sampai Aliyah, tambah perguruan tinggi S2 S3 kerjasama dengan PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an).
Apa yang menginspirasi Prof melakukan terobosan-terobosan tersebut?Kita kan mencontoh nabi, dalam buku saya, "23 Fungsi Masjid Nabi". Masjid nabi itu sekretariat negara, masjid nabi itu baitul maal, masjid nabi itu rumah sakit, korban perang dijahit di masjid, masjid nabi itu penjara; tawanan perang di rantai di masjid, masjid nabi itu tempat latihan perang, besok perang latihan dulu di masjid, masjid nabi itu tempat pertunjukan seni; setiap tahun artis-artis diundang ke masjid, masjid nabi juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan, kemudian bengkel pabrik senjata canggih, dan masjid nabi juga sebagai tempat pertemuan penting antar umat beragama.
Ada suatu riwayat 60 tokoh lintas agama datang ke masjid Nabi antara (waktu) ashar dan maghrib. Suatu saat orang itu berkata, "Ya Rasulullah saya akan keluar dulu, ini sebentar lagi matahari akan tenggelam, saya belum melakukan kebaktian." Kata Rasul: "Di sini nggak ada rumah ibadah lain, lakukan kebaktian di situ". Jadi masjid di masa Nabi seperti itu.
Bagaimana pandangan Prof mengenai instrumen zakat, infaq, shadaqah, dan wkaaf (Ziswaf) untuk kemandirian masjid dan pemberdayaan umat?Iya, zakat itu kan hanya 2,5 persen dan ada asnafnya. Di sini kita bicara wakaf yang unlimited, selain itu ada shadaqah, infak, dan shadaqah jariyyah. Zakat 2,5 persen tidak bisa digunakan membangun karena itu ada asnafnya, kalau wakaf bisa diproduktifkan.
Deposito kan bisa sampai 6 persn lebih tinggi deposito dari pada zakat. Istiqlal kedepannya akan menjadi masjid yang mandiri, mampu membiayai sendiri. Kedepannya Istiqlal tidak perlu dibantu negara, sebaliknya membantu negara menyelesaikan masalah umat.
Beberapa waktu lalu, dengan bahasa agama kita mengumpulkan teman-teman dari agama lain agar memberikan sumbangan, untuk membantu saudara kita yang terdampak Covid-19, seperti korban PHK (pemutusan hubungan kerja), janda, yatim, yang ditinggal, mati dan sebagainya, dana yang terkumpul ternyata fantastik.
Saya yakin, bangsa kita adalah bangsa paling pemurah di dunia, saya nggak takut dan gak malu minta, karena bukan untuk pribadi. Itu karena ada kepercayaan dari masyarakat. Bahkan ada yang mengatakan,"Saya mau bantu kalau Pak Nasar yang bilang."
Mohon doa restu dan nasihatnya untuk Langit7 Prof?Pertama saya mendukung, Langit7 itu bukan hanya konsep, Langit7 itu maksimum. Langit bahasa Arabnya as-Sama, bahasa Inggrisnya celestial (dunia agung). Al-Qur'an menganggap tidak bisa kalau menyatu ke samping, menyatu itu ke atas. Jadi kalau mau menyatu naik ke atas, ke langit.
Tapi resikonya anda menjadi tidak terlalu seksi, tidak seperti yang lain-lain, pakai atribut merah. Tapi for what? untuk apa? Hemat saya adem itu lebih indah, tapi bukan yang negatif. Nabi itu adem tapi the best manager the best leader.
Harapan kita ke depan adalah mempertemukan bukan membedakan, Indonesia ini kalau mencari negasinya pasti berantakan negara ini. Tapi yang harus kita kedepankan adalah nilai titik temu. Jadi kita harus berorientasi pada nilai sentripetal yaitu pergerakan dari luar masuk ke sebuah titik, bukan sebaliknya sentrifugal pergerakan dari satu titik keluar. Saya harap Langit7 berorientasi sentripetal.
Saya berharap Langit7 itu don't only name, jangan hanya nama, tapi harus betul-betul celestial. Jangan cari uang di Langit7 tapi cari bakti di masyarakat. Kita bukan cari banyak, tapi cari berkah.
Biodata Prof Nasaruddin Umar:Nama: Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.
Tanggal Lahir : 23 Juni 1959 (62 Tahun)
Jabatan :
• Sekretaris Umum Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan (LSIK), Jakarta, 1992- Sekarang.
• Dewan Pendiri dan pengurus Masyarakat Dialaog natar Ummat Beragama (MADIA) Jakarta, 1983-sekarang.
• Wakil Ketua wakaf yayasan Paramadina, Jakarta, 1999- Sekarang.
• Ketua Yayasan Panca Dian Kasih, Jakarta, 2001- Sekarang.
• Ketua Departemen Pemberdayaan Sosial dan Perempuan ICMI Pusat, Jakarta 2000- sekarang.
• Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, 2000- Sekarang.
• Anggota KOMNAS Perempuan, 1999-sekarang.
• Wakil Ketua (Bidang Pendidikan)Masjid Al-Tin, Jakarta, 1998-sekarang.
• Pembantu Rektor III IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2000-sekarang.
• Staf Pengajar bidang kajian Wanita program pasca Sarjana UI, jakarta, 1997-Sekarang.
• Ketua Program studi Agama dan Perempuan, bidang kajian wanita program pasca Sarjana UI Jakarta, 2001-sekarang.
• Staf pengajar Yayasan wakaf Paramadina, Jakarta, 1993-sekarang.
• Staf Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBII Jakarta, 1997-sekarang.
• Wakil sekretaris PP. Himpunan Peminat Ilmu-Ilmu Ushuliuddin (HIPIUS), Jakarta, 1994-Sekarang.
• Anggota Asesor badan Akredaitasi Nasional Perguruan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional RI, Jakarta, 2001-sekarang.
• Yayasan Setara Indonesia (YASIN), Jakarta, 2001-sekarang.
• Staf ahli PSW IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2001-sekarang.
• Dewan Redaksi Jurnal Islam FUTURA, IAIN Ar-raniri, nanggroe Aceh Darussalam, 2001-sekarang.
• Anggota penyunting ahli Jurnal Kajian Agama Islam dan Masyarakat INTIZAR, Pusat Penelitian IAIN Raden fatah, Palembang, 2001-sekarang.
• Penanggung jawab tabloid Swara Damai Yayasan Padi Kasih, Jakarta 2002-sekarang.
• Pengasuh Rubrik Masa'il al-Shufiyah di majalah SUFI, Jakarta, 2002-sekarang.
• Nasaruddin Umar Office (NUO) 2019 -sekarang.
(zhd)