LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menerima kunjungan delegasi Global Peace Foundation (GPF) atau Muasasah Risalah as-Salam di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (2/5/2026). Pertemuan ini membahas rencana pembukaan kantor pusat organisasi tersebut di Indonesia serta kolaborasi dalam penguatan literasi Islam moderat dan teknologi pendidikan.
Pimpinan delegasi, Ustadz Majidi Tontowi, menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara ke-47 yang menjadi mitra strategis mereka. Ia menilai model keberagamaan di Indonesia sangat relevan dengan visi organisasi dalam menyebarkan perdamaian global.
"Kami melihat adanya keselarasan antara nilai-nilai yang kami perjuangkan dengan karakter masyarakat Indonesia. Islam di sini tumbuh dengan pendekatan cinta dan toleransi. Kami ingin menjadikan Indonesia sebagai mitra penting dalam menghapus stigma negatif terhadap agama dan menunjukkan bahwa Islam adalah solusi bagi kedamaian dunia," tuturnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (4/5/2026).
Menag menekankan urgensi modernisasi dalam kajian keagamaan. Menag mendorong agar kerja sama ke depan tidak hanya fokus pada kajian klasik, tetapi juga mulai mengintegrasikan teknologi terkini seperti
Artificial Intelligence (AI).
"Hubungan intelektual kita dengan Mesir sudah sangat lama dan kuat. Ke depan, kita ingin mengembangkan kajian ayat-ayat kauniyah dengan melibatkan ilmuwan Muslim dunia dan memanfaatkan teknologi AI. Kami ingin Indonesia menjadi tempat di mana tradisi keilmuan Islam bertemu dengan inovasi masa depan," jelas Menag, (2/5/2026).
Menteri Agama menyambut baik rencana GPF untuk mendirikan lembaga di Indonesia. Menag berharap kehadiran organisasi ini dapat memperkuat jembatan komunikasi antara ulama di Indonesia dengan jaringan intelektual di Timur Tengah, Amerika, dan Eropa.
"Pertemuan ini adalah langkah awal yang sangat positif. Kami mengapresiasi kehadiran para tokoh akademisi dari Universitas Kairo dan Universitas Mansurah dalam delegasi ini. Semoga sinergi ini memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan dan perdamaian di Indonesia maupun secara global," pungkas Menag.
Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah akademisi terkemuka, di antaranya Dr. Abdul Rady Radwan (Dekan Darul Ulum Universitas Kairo) dan Dr. Ridha Abdi Salam (Mantan Gubernur Syarqiyah/Akademisi Hukum), yang turut memberikan pandangan mengenai pentingnya risalah perdamaian dalam pendidikan tinggi.
(lam)