Kisah Sanggar Senja Cibinong Buka Akses Pendidikan Bagi Anak Jalanan
Muhajirin
Kamis, 09 Desember 2021 - 20:51 WIB
Anak-anak di Sanggar Senja Cobinong (Dok Yayasan Senja Cibinong)
Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan. Tak terkecuali anak-anak jalanan. Hanya saja, anak jalanan kerap terpinggirkan dari gedung-gedung mewah sekolah. Kekosongan itu yang dilihat Yayasan Anak Negeri Jaya atau lebih sering disebut Sanggar Senja Cibinong, Kabupaten Bogor.
Yayasan yang didirikan sejak 2014 itu fokus membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang hidup dan besar di jalanan. Mayoritas anak jalanan di tempat itu tak diketahui keberadaan orang tuanya.
Hingga pada 2018, yayasan itu telah membebaskan akte kelahiran sekitar 120 anak. Sebagian akte mereka mengatasnamakan anak ibu, sebagian lagi anak negara. Dengan identitas tersebut, mereka akhirnya bisa dimasukkan ke sekolah swasta.
Yayasan tersebut didirikan Adi Supriyadi atau akrab disapa Kang Adi. Kang Adi mantan anak jalanan. 35 tahun lika-liku kehidupan ia lalui di jalanan dengan mengamen. Latar belakang itu yang mendorong Kang Adi mendirikan Senja Cibinong.
“Saya ini adalah mantan anak jalanan, sudah 35 tahun saya mengamen,” kata Kang Adi dalam webinar “Inklusi Pendidikan: Inisiatif Bersama Membuka Akses Pendidikan Bagi Seluruh Anak Bangsa”, dikutip topsatu.com, Kamis (9/12/2021).
Perjalanan 35 tahun membawa begitu banyak pelajaran bagi Kang Adi. Ia tak hanya sekadar mencari penyangga perut, namun cuma juga pencarian jati diri. Pada fase itu pula, ia mendapati banyak anak jalanan yang hidup terlunta-lunta di berbagai sudut-sudut Bogor.
“Saya prihatin dengan anak jalanan, ada yang dibunuh, dirudapaksa, ditabrak kendaraan. Akhirnya saya membuat sebuah wadah yang diberi nama Terjal (Terbuang di Jalanan),” ucapnya. Komunitas itu menjadi wadah untuk menampung anak-anak jalanan. Di sana, Kang Adi mengajarkan anak-anak jalanan membaca, menulis dan menghitung, musik, hingga nilai-nilai kehidupan.
Yayasan yang didirikan sejak 2014 itu fokus membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang hidup dan besar di jalanan. Mayoritas anak jalanan di tempat itu tak diketahui keberadaan orang tuanya.
Hingga pada 2018, yayasan itu telah membebaskan akte kelahiran sekitar 120 anak. Sebagian akte mereka mengatasnamakan anak ibu, sebagian lagi anak negara. Dengan identitas tersebut, mereka akhirnya bisa dimasukkan ke sekolah swasta.
Yayasan tersebut didirikan Adi Supriyadi atau akrab disapa Kang Adi. Kang Adi mantan anak jalanan. 35 tahun lika-liku kehidupan ia lalui di jalanan dengan mengamen. Latar belakang itu yang mendorong Kang Adi mendirikan Senja Cibinong.
“Saya ini adalah mantan anak jalanan, sudah 35 tahun saya mengamen,” kata Kang Adi dalam webinar “Inklusi Pendidikan: Inisiatif Bersama Membuka Akses Pendidikan Bagi Seluruh Anak Bangsa”, dikutip topsatu.com, Kamis (9/12/2021).
Perjalanan 35 tahun membawa begitu banyak pelajaran bagi Kang Adi. Ia tak hanya sekadar mencari penyangga perut, namun cuma juga pencarian jati diri. Pada fase itu pula, ia mendapati banyak anak jalanan yang hidup terlunta-lunta di berbagai sudut-sudut Bogor.
“Saya prihatin dengan anak jalanan, ada yang dibunuh, dirudapaksa, ditabrak kendaraan. Akhirnya saya membuat sebuah wadah yang diberi nama Terjal (Terbuang di Jalanan),” ucapnya. Komunitas itu menjadi wadah untuk menampung anak-anak jalanan. Di sana, Kang Adi mengajarkan anak-anak jalanan membaca, menulis dan menghitung, musik, hingga nilai-nilai kehidupan.