Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Kisah Sanggar Senja Cibinong Buka Akses Pendidikan Bagi Anak Jalanan

Muhajirin Kamis, 09 Desember 2021 - 20:51 WIB
Kisah Sanggar Senja Cibinong Buka Akses Pendidikan Bagi Anak Jalanan
Anak-anak di Sanggar Senja Cobinong (Dok Yayasan Senja Cibinong)
LANGIT7.ID, Bogor - Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan. Tak terkecuali anak-anak jalanan. Hanya saja, anak jalanan kerap terpinggirkan dari gedung-gedung mewah sekolah. Kekosongan itu yang dilihat Yayasan Anak Negeri Jaya atau lebih sering disebut Sanggar Senja Cibinong, Kabupaten Bogor.

Yayasan yang didirikan sejak 2014 itu fokus membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang hidup dan besar di jalanan. Mayoritas anak jalanan di tempat itu tak diketahui keberadaan orang tuanya.

Hingga pada 2018, yayasan itu telah membebaskan akte kelahiran sekitar 120 anak. Sebagian akte mereka mengatasnamakan anak ibu, sebagian lagi anak negara. Dengan identitas tersebut, mereka akhirnya bisa dimasukkan ke sekolah swasta.

Yayasan tersebut didirikan Adi Supriyadi atau akrab disapa Kang Adi. Kang Adi mantan anak jalanan. 35 tahun lika-liku kehidupan ia lalui di jalanan dengan mengamen. Latar belakang itu yang mendorong Kang Adi mendirikan Senja Cibinong.

“Saya ini adalah mantan anak jalanan, sudah 35 tahun saya mengamen,” kata Kang Adi dalam webinar “Inklusi Pendidikan: Inisiatif Bersama Membuka Akses Pendidikan Bagi Seluruh Anak Bangsa”, dikutip topsatu.com, Kamis (9/12/2021).

Perjalanan 35 tahun membawa begitu banyak pelajaran bagi Kang Adi. Ia tak hanya sekadar mencari penyangga perut, namun cuma juga pencarian jati diri. Pada fase itu pula, ia mendapati banyak anak jalanan yang hidup terlunta-lunta di berbagai sudut-sudut Bogor.

“Saya prihatin dengan anak jalanan, ada yang dibunuh, dirudapaksa, ditabrak kendaraan. Akhirnya saya membuat sebuah wadah yang diberi nama Terjal (Terbuang di Jalanan),” ucapnya. Komunitas itu menjadi wadah untuk menampung anak-anak jalanan. Di sana, Kang Adi mengajarkan anak-anak jalanan membaca, menulis dan menghitung, musik, hingga nilai-nilai kehidupan.

Suatu ketika terjadi peristiwa tak mengenakkan. Salah satu anak binaan Kang Adi jatuh sakit dan harus dirawat ke Rumah Sakit. Ia tak memiliki cukup biaya rumah sakit. Kondisi itu membuat Kang Adi sempat bersitegang dengan pihak keamanan rumah sakit.

Anak itu belum memiliki identitas, namun di sisi lain, Kang Adi merasa anak itu harus diperhatikan oleh negara. “Saya marah-marah sampai rebut dengan satpam, karena tak sanggung membayar biaya pengobatan anak jalanan,” katanya.

Kejadian itu rupanya membawa hikmah besar. Seorang ibu yang menyaksikan kejadian itu memanggil Kang Adi ke parkiran. Ibu itu tak menyebutkan namanya. Ia hanya menitipkan sejumlah uang lalu mengamanatkan untuk dibuat yayasan. “Biar mencari uang lebih mudah (untuk anak-anak jalanan),” kata Adi.

Dari bantuan tak terduga itu, Kang Adi mendirikan Yayasan Senja. Kini, yayasan itu sudah mewadahi anak-anak jalanan selama 12 tahun.

Rumitnya Kehidupan Anak Jalanan

Kang Adi menceriakan, anak-anak jalanan yang ia bina berasal dari berbagai latar belakang. Salah satu anak jalanan di Sanggar Senja hendak dijual oleh orang tuanya seharga Rp20 juta. Namun tidak ada yang mau beli, karena perekonomian terdampak pandemi. Anak itu lalu dibuang.

“Orang tua broken home (pisah), seperti itulah kehidupan anak-anak jalanan tersebut, kemudian kita tawarkan untuk kita tamping di Yayasan Senja,” kata Adi.

Di sisi lain, Kang Adi juga mendapati banyak rintangan ketika berhadapan dengan birokrasi. Kesulitan itu kerap didapati jika mengurus kartu identitas seperti akta kelahiran untuk kebutuhan administrasi anak. “Sulit sekali berhadapan dengan birokrasi di negara kita,” katanya.

Saat ini, dari 130 anak jalanan yang ia bombing, 22 di antaranya sudah disekolahkan. Bahkan, sudah ada yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan formal. Ada pula yang telah menjadi guru, membuka usaha, hingga mendapatkan pekerjaan layak.

Kang Adi menerangkan, mereka sebenarnya adalah anak-anak yang baik. Hanya saja, selama ini mereka tidak mendapatkan perhatian dari orang tua. Meski ada yang nakal, namun ia bisa memaklumi. Wajar mereka tidak pernah mendapatkan pendidikan layak saat berada di jalanan.

“Karena saya sendiri anak jalanan, jadi saya tahu cara persoalan mereka dan cara menyelesaikan. Bagi saya, mereka anak yang baik, tidak mengemis dan mengamen juga sudah menjadi keberhasilan. Mereka mau sekolah sudah menjadi prestasi,” kata Kang Adi.

Kang Adi menegaskan, hanya dengan pendidikan, anak-anak bangsa bisa maju dan bisa berkontribusi kepada masyarakat luas. Maka perlu ada perhatian serius dari pemerintah terhadap anak jalanan.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)