Pelaksanaan Belajar Daring Perparah Ketimpangan Pendidikan Indonesia
Muhajirin
Sabtu, 18 Desember 2021 - 14:01 WIB
ilustrasi belajar daring (langit7.id/istock)
Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menilai bahwa pelaksanaan Pembelajaran Daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) membuat ketimpangan pendidikan Indonesia yang telah lama ada, menjadi semakin melebar.
“Pandemi telah memperburuk masalah ketimpangan pendidikan ini dimana kebijakan penutupan sekolah untuk menekan penyebaran virus, telah membuat akses kelompok miskin dan mereka yang tinggal di daerah tertinggal menjadi semakin sulit,” kata Nuri Ikawati, peneliti IDEAS dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (18/12/2021).
Sebelum pandemi, ketimpangan pendidikan banyak disumbang oleh ketertinggalan wilayah dan tingkat pendapatan keluarga. Kesenjangan pendidikan muncul sebagai hasil dari akses dan kualitas pendidikan yang tidak merata.
“Learning loss yang muncul sebagai akibat penutupan sekolah, bebannya terdistribusi tidak merata, dimana kelompok miskin menanggung beban learning loss jauh lebih besar,” ungkap Nuri.
Peserta didik yang tidak memiliki akses memadai terhadap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seperti jaringan internet, guru yang berkualitas dan adaptif, serta orang tua yang mampu mendampingi dan memberikan fasilitas PJJ akan kehilangan kesempatan belajar yang seharusnya mereka dapatkan dalam pembelajaran normal.
“Dalam jangka panjang dampak PJJ di masa pandemi sangat mencemaskan yaitu si anak miskin dan rentan semakin jauh tertinggal, semakin rendah keahlian dan keterampilan, semakin lemah daya saingnya di pasar tenaga kerja, dan akan semakin sulit memperbaiki kesejahteraannya di masa depan,” tutur Nuri.
Survei IDEAS menunjukkan arah kesimpulan yang serupa yaitu pengalaman dan capaian belajar peserta didik jauh menurun di masa pandemi.
“Pandemi telah memperburuk masalah ketimpangan pendidikan ini dimana kebijakan penutupan sekolah untuk menekan penyebaran virus, telah membuat akses kelompok miskin dan mereka yang tinggal di daerah tertinggal menjadi semakin sulit,” kata Nuri Ikawati, peneliti IDEAS dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (18/12/2021).
Sebelum pandemi, ketimpangan pendidikan banyak disumbang oleh ketertinggalan wilayah dan tingkat pendapatan keluarga. Kesenjangan pendidikan muncul sebagai hasil dari akses dan kualitas pendidikan yang tidak merata.
“Learning loss yang muncul sebagai akibat penutupan sekolah, bebannya terdistribusi tidak merata, dimana kelompok miskin menanggung beban learning loss jauh lebih besar,” ungkap Nuri.
Peserta didik yang tidak memiliki akses memadai terhadap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seperti jaringan internet, guru yang berkualitas dan adaptif, serta orang tua yang mampu mendampingi dan memberikan fasilitas PJJ akan kehilangan kesempatan belajar yang seharusnya mereka dapatkan dalam pembelajaran normal.
“Dalam jangka panjang dampak PJJ di masa pandemi sangat mencemaskan yaitu si anak miskin dan rentan semakin jauh tertinggal, semakin rendah keahlian dan keterampilan, semakin lemah daya saingnya di pasar tenaga kerja, dan akan semakin sulit memperbaiki kesejahteraannya di masa depan,” tutur Nuri.
Survei IDEAS menunjukkan arah kesimpulan yang serupa yaitu pengalaman dan capaian belajar peserta didik jauh menurun di masa pandemi.