Tradisi di Masjid Tua Wapauwe, Kambing Didandani lalu Disembelih
Fajar adhitya
Selasa, 20 Juli 2021 - 17:55 WIB
Masjid Tua Wapauwe di Maluku Tengah menyambut tradisi pemotongan hewan kurban. (Foto: Antara).
Proses pemotongan hewan kurban di Desa aitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, ditunda Rabu (21/7/2021) besok. Sebab ada tradisi unik yang mesti dilakukan lebih dulu di Masjid Tua Wapauwe.
"Kami sudah melaksanakan shalat Idul Adha tadi pagi, tapi penyembelihan kurban baru akan dilakukan besok hari Rabu," kata Penghulu Masjid Wapauwe, Yusuf Yehehet, di Kaitetu, Selasa (20/7/2021).
Menurut dia, pemotongan hewan kurban masih bisa ditunda asalkan tidak lebih dari tiga hari. Hal ini sudah dipraktikkan warga sejak Islam masuk ke desa tersebut.
Dia mengatakan, ada tradisi menyembelih kurban. Mulai dari semarak pawai tarian dan anak-anak mengiringi arakan hewan kurban yang akan lebih dulu disembelih.
Pawai hadrat mengarak dua ekor kambing kurban dengan cara digendong keliling kampung sebelum diantarkan ke masjid. Kegiatan ini merupakan ritual wajib setiap perayaan Idul Adha. Hewan kurban itu disebut "kambing pamali".
Sebelum diarak, dua ekor "kambing pamali" dibedaki dan didandani dengan hiasan kalung bunga plumeria atau kamboja di tanduk dan lehernya, serta selempang kain putih melingkari tubuh.
Seekor kambing akan didandani di rumah Raja Kaitetu, dan seekor lainnya di didandani di rumah Soa Nukuhaly, yang dalam silsilah pemerintahan adat Negeri Kaitetu, merupakan rumah keturunan para penasihat raja.
"Kami sudah melaksanakan shalat Idul Adha tadi pagi, tapi penyembelihan kurban baru akan dilakukan besok hari Rabu," kata Penghulu Masjid Wapauwe, Yusuf Yehehet, di Kaitetu, Selasa (20/7/2021).
Menurut dia, pemotongan hewan kurban masih bisa ditunda asalkan tidak lebih dari tiga hari. Hal ini sudah dipraktikkan warga sejak Islam masuk ke desa tersebut.
Dia mengatakan, ada tradisi menyembelih kurban. Mulai dari semarak pawai tarian dan anak-anak mengiringi arakan hewan kurban yang akan lebih dulu disembelih.
Pawai hadrat mengarak dua ekor kambing kurban dengan cara digendong keliling kampung sebelum diantarkan ke masjid. Kegiatan ini merupakan ritual wajib setiap perayaan Idul Adha. Hewan kurban itu disebut "kambing pamali".
Sebelum diarak, dua ekor "kambing pamali" dibedaki dan didandani dengan hiasan kalung bunga plumeria atau kamboja di tanduk dan lehernya, serta selempang kain putih melingkari tubuh.
Seekor kambing akan didandani di rumah Raja Kaitetu, dan seekor lainnya di didandani di rumah Soa Nukuhaly, yang dalam silsilah pemerintahan adat Negeri Kaitetu, merupakan rumah keturunan para penasihat raja.