LANGIT7.ID-Jakarta; Berbicara soal keberlanjutan mudah. Mengimplementasikannya adalah soal lain. Itulah tantangan yang kini dihadapi industri perbankan syariah Indonesia ketika prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin tak bisa dihindari. Bukan karena industrinya tidak mau, melainkan karena jarak antara komitmen dan implementasi nyata masih menjadi pertanyaan terbuka.
Dilansir dari situs ASBISINDO, Senin (20/4/2026), forum itu muncul dalam ESG Talk Series 1 bertajuk
Green & Inclusive Islamic Banking: A National–Global Dialogue, yang digelar Perkumpulan Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) di BSI Tower, Jakarta. Acara ini merupakan bagian dari program kerja Working Group ESG ASBISINDO Tahun 2026, dihadiri anggota ESG ASBISINDO serta berbagai pemangku kepentingan industri perbankan syariah.
Dalam sesi diskusi, peserta mendapat pemaparan mengenai konsep dasar ESG, urgensi penerapannya, serta perkembangan standar global yang kian menjadi perhatian industri keuangan. Satu poin yang berulang kali mengemuka: ESG bukan sekadar orientasi profit, melainkan soal keberlanjutan dan inklusivitas, nilai yang diklaim sudah lama menjadi ruh sistem keuangan syariah.
Namun klaim itu justru memperbesar ekspektasi. Jika nilai syariah memang sudah selaras dengan ESG, mengapa implementasinya masih perlu didorong lewat serangkaian forum?
ASBISINDO menjawabnya dengan langkah bertahap. ESG Talk Series diposisikan sebagai forum berkelanjutan, bukan acara tunggal, untuk mendorong implementasi yang lebih konkret di lingkungan perbankan syariah sekaligus memperkuat daya saing industri di tingkat nasional maupun global.
(lam)