Indo Barometer: Gus Yahya Punya PR Panjang, Terutama Tata Organisasi
Jaja Suhana
Sabtu, 25 Desember 2021 - 01:43 WIB
KH Said saat meninjau lokasi Muktamar belum lama ini. Foto: Istimewa.
Direktur Eksekutif Indo Barometer Mohammad Qodari, mengatakan terpilihnya KH Yahya Cholil staquf diyakini mampu membawa perubahan bagi NU kedepannya, karena baginya Gus Yahya relatif masih muda dan memiliki stamina lebih kuat untuk memimpin NU di seluruh Indonesia.
Hal itu disampaikan Qodarimelalui keterangannya, Jumat (24/12/2021). Ia menyampaikan selamat atas terpilihnya Gus Yahya menjadi nahkoda baru ormas Islam terbesar di Indonesia itu, dan juga kepada KH Miftahkul Akhyar yang terpilih sebagai Rois Aam PBNU.
Menurut Qodari, Gus Yahya memiliki pekerjaan rumah (PR) yang panjang dalam meneruskan kepemimpinan KH Said Aqil Siradj, di antaranya menata ulang organisasi NU agar lebih baik sebagaimana yang dilakukannya di GP Ansor dan Banser.
Baca Juga:Selepas Muktamar, 5 Masjid Indah di Lampung Dapat Jadi Tujuan Wisata
"Nah PR kedepan apa, saya kira nomor satu bagaimana penataan organisasi di NU lebih baik lagi bila dibandingkan dengan sebelumnya, dan mudah-mudahan hal ini bisa kondusif karena pendidikan Gus Yahya selain pesantren juga lulusan sosiologi UGM," kata Qodari.
Salah satu hal yang penting dilakukan oleh pimpinan baru NU menurut Qodari, yakni membangun komunikasi dari pusat hingga ke daerah-daerah, agar seluruh elemen bisa solid demi menjawab tantangan zaman.
Hal itu menurut Qodari, sebagaimana pidato yang disampaikan oleh Presiden Jokowi pada pembukaan muktamar NU ke-34, Jokowi dalam pidatonya menyinggung isu metaverse, sebuah dunia baru yang tentu akan sangat berbeda dengan saat ini.
Hal itu disampaikan Qodarimelalui keterangannya, Jumat (24/12/2021). Ia menyampaikan selamat atas terpilihnya Gus Yahya menjadi nahkoda baru ormas Islam terbesar di Indonesia itu, dan juga kepada KH Miftahkul Akhyar yang terpilih sebagai Rois Aam PBNU.
Menurut Qodari, Gus Yahya memiliki pekerjaan rumah (PR) yang panjang dalam meneruskan kepemimpinan KH Said Aqil Siradj, di antaranya menata ulang organisasi NU agar lebih baik sebagaimana yang dilakukannya di GP Ansor dan Banser.
Baca Juga:Selepas Muktamar, 5 Masjid Indah di Lampung Dapat Jadi Tujuan Wisata
"Nah PR kedepan apa, saya kira nomor satu bagaimana penataan organisasi di NU lebih baik lagi bila dibandingkan dengan sebelumnya, dan mudah-mudahan hal ini bisa kondusif karena pendidikan Gus Yahya selain pesantren juga lulusan sosiologi UGM," kata Qodari.
Salah satu hal yang penting dilakukan oleh pimpinan baru NU menurut Qodari, yakni membangun komunikasi dari pusat hingga ke daerah-daerah, agar seluruh elemen bisa solid demi menjawab tantangan zaman.
Hal itu menurut Qodari, sebagaimana pidato yang disampaikan oleh Presiden Jokowi pada pembukaan muktamar NU ke-34, Jokowi dalam pidatonya menyinggung isu metaverse, sebuah dunia baru yang tentu akan sangat berbeda dengan saat ini.