Pondok Gading Malang, Masyhur dengan Ilmu Hisab dan Jadi Rujukan Wisata Religi
Muhajirin
Kamis, 22 Juli 2021 - 10:42 WIB
Masjid Baiturrahman Pondok Pesantren Gading Malang (foto: gadingpesantren.id)
Ilmu hisab tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya dua kali setahun ilmu tersebut menjadi pijakan saat menentukan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Namun tahukah kita salah satu pesantren tertua di Indonesia yang menjadi rujukan ilmu hisab?
Pesantren itu adalah Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang atau lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Gading Malang. Pondok Gading terkenal dengan kajian ilmu hisabnya, metode dalam penanggalan Islam. PPMH sangat terkenal dalam segi teknik penghitungan (hisab) penentuan Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha.
Selain itu, pengasuh ponpes ini juga punya hubungan keluarga dengan Sunan Gunung Jati. Dua keunggulan inilah yang menjadikan pesantren tua di Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, ini banyak dikunjungi sebagai destinasi wisata religi.
Pesantren yang telah berdiri sejak abad 17 itu berada di Jl Gading Pesantren, Kota Malang, Jawa Timur. Saat ini telah diasuh pengasuh generasi keempat, yakni putra-putri KH. Muhammad Yahya. secara silsilah, KH. Muhammad Yahya memiliki garis keturunan dengan salah satu wali songo, yakni Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Pada awalnya Pondok Gading didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. Kemudian dilanjutkan oleh KH. Ismail pada tahun 1858. Lalu pada tahun 1971 Pondok Gading diasuh oleh KH. Muhammad Yahya, sebagai generasi ketiga. Berdasarkan silsilah pendiriannya maka Pondok Gading adalah pondok tertua ketiga di Indonesia.
Kepemimpinan kemudian berlanjut ke KH. Abdurrohim Amrullah Yahya (1971 - 2010), KH. Abdurrahman Yahya (1971 - 2018), dan KH. Ahmad Arief Yahya. (1971 - sekarang). Di samping itu pucuk pimpinan dibantu KH. Muhammad Baidlowi Muslich dan Ustadz HM. Shohibul Kahfi. Kiai Baidlowi saat ini juga menjadi ketua MUI Kota Malang. Sementara Pesantren Putri diasuh oleh Ibu Nyai Dewi Aisyah.
Pondok Gading menjadi salah satu sentral penyebaran agama Islam pada masa awal berdirinya. Bahkan dalam melawan penjajah. pesantren ini menjadi simbol perlawanan, baik dalam revolusi fisik maupun revolusi kebudayaan.
Pesantren itu adalah Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang atau lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Gading Malang. Pondok Gading terkenal dengan kajian ilmu hisabnya, metode dalam penanggalan Islam. PPMH sangat terkenal dalam segi teknik penghitungan (hisab) penentuan Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha.
Selain itu, pengasuh ponpes ini juga punya hubungan keluarga dengan Sunan Gunung Jati. Dua keunggulan inilah yang menjadikan pesantren tua di Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, ini banyak dikunjungi sebagai destinasi wisata religi.
Pesantren yang telah berdiri sejak abad 17 itu berada di Jl Gading Pesantren, Kota Malang, Jawa Timur. Saat ini telah diasuh pengasuh generasi keempat, yakni putra-putri KH. Muhammad Yahya. secara silsilah, KH. Muhammad Yahya memiliki garis keturunan dengan salah satu wali songo, yakni Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Pada awalnya Pondok Gading didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. Kemudian dilanjutkan oleh KH. Ismail pada tahun 1858. Lalu pada tahun 1971 Pondok Gading diasuh oleh KH. Muhammad Yahya, sebagai generasi ketiga. Berdasarkan silsilah pendiriannya maka Pondok Gading adalah pondok tertua ketiga di Indonesia.
Kepemimpinan kemudian berlanjut ke KH. Abdurrohim Amrullah Yahya (1971 - 2010), KH. Abdurrahman Yahya (1971 - 2018), dan KH. Ahmad Arief Yahya. (1971 - sekarang). Di samping itu pucuk pimpinan dibantu KH. Muhammad Baidlowi Muslich dan Ustadz HM. Shohibul Kahfi. Kiai Baidlowi saat ini juga menjadi ketua MUI Kota Malang. Sementara Pesantren Putri diasuh oleh Ibu Nyai Dewi Aisyah.
Pondok Gading menjadi salah satu sentral penyebaran agama Islam pada masa awal berdirinya. Bahkan dalam melawan penjajah. pesantren ini menjadi simbol perlawanan, baik dalam revolusi fisik maupun revolusi kebudayaan.