LANGIT7.ID, Malang - Ilmu hisab tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya dua kali setahun ilmu tersebut menjadi pijakan saat menentukan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Namun tahukah kita salah satu pesantren tertua di Indonesia yang menjadi rujukan ilmu hisab?
Pesantren itu adalah Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang atau lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Gading Malang. Pondok Gading terkenal dengan kajian ilmu hisabnya, metode dalam penanggalan Islam. PPMH sangat terkenal dalam segi teknik penghitungan (hisab) penentuan Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Idul Adha.
Selain itu, pengasuh ponpes ini juga punya hubungan keluarga dengan Sunan Gunung Jati. Dua keunggulan inilah yang menjadikan pesantren tua di Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, ini banyak dikunjungi sebagai destinasi wisata religi.
Pesantren yang telah berdiri sejak abad 17 itu berada di Jl Gading Pesantren, Kota Malang, Jawa Timur. Saat ini telah diasuh pengasuh generasi keempat, yakni putra-putri KH. Muhammad Yahya. secara silsilah, KH. Muhammad Yahya memiliki garis keturunan dengan salah satu wali songo, yakni Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Pada awalnya Pondok Gading didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. Kemudian dilanjutkan oleh KH. Ismail pada tahun 1858. Lalu pada tahun 1971 Pondok Gading diasuh oleh KH. Muhammad Yahya, sebagai generasi ketiga. Berdasarkan silsilah pendiriannya maka Pondok Gading adalah pondok tertua ketiga di Indonesia.
Kepemimpinan kemudian berlanjut ke KH. Abdurrohim Amrullah Yahya (1971 - 2010), KH. Abdurrahman Yahya (1971 - 2018), dan KH. Ahmad Arief Yahya. (1971 - sekarang). Di samping itu pucuk pimpinan dibantu KH. Muhammad Baidlowi Muslich dan Ustadz HM. Shohibul Kahfi. Kiai Baidlowi saat ini juga menjadi ketua MUI Kota Malang. Sementara Pesantren Putri diasuh oleh Ibu Nyai Dewi Aisyah.
Pondok Gading menjadi salah satu sentral penyebaran agama Islam pada masa awal berdirinya. Bahkan dalam melawan penjajah. pesantren ini menjadi simbol perlawanan, baik dalam revolusi fisik maupun revolusi kebudayaan.
Dalam kurikulum pendidikan, Pondok Gading masuk dalam kategori pesantren salafiyah atau tradisional. Pesantren salafiyah berarti pesantren tersebut masih mempertahankan sistem pengajaran tradisional, dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik atau disebut kitab kuning.
Selain itu, Pondok Gading juga terkenal dengan sebagai pondok tasawuf yang mengajarkan thariqah qadiriyah dan naqsabandiyah. Kitab-kitab yang dibacakan oleh para masyayikh pun tak jauh dari nuansa tasawuf.
Sistem PendidikanMengutip laman resmi PPMH, Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) berada dibawah kepengurusan Madrasah Diniyah Salafiyah Matholiul Huda (MMH). Sistem kelas dalam pondok ini terdiri tiga tingkatan yakni tingkat
Ula (dasar),
Wustho (menengah) dan
Ulya (atas).
Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Diniyah Salafiyah Matholi'ul Huda dilaksanakan pada malam hari, tepatnya pukul 19.30-21.00. Proses pembelajaran dilakukan di gedung diniyah yang terdiri dari tiga lantai. Terdapat tiga kelas untuk masing-masing tingkat
Ula, Wushto dan Ulya.
Setiap Siswa yang telah tuntas pada setiap tingkatan akan diwisuda dan mendapatkan ijazah yang disetarakan dengan sekolah umum. Tingkat
Ula setara dengan
Madrasah Ibtidaiyah, tingkat
wustha setara dengan
Madrasah Tsanawiyah, sedangkan tingkat
Ulya disetarakan dengan
Madrasah Aliyah.
Pesantren ini didukung dengan kegiatan penunjang atau kegiatan ekstrakurikuler seperti khitobah, diba'iyah, musyawarah masail diniyah, seni baca Al-quran dan Sholawat serta berbagai diklat keterampilan antara lain: diklat ilmu Hisab, diklat faraidh, diklat jurnalistik, kewirausahaan dan lain-lain.
Destinasi Wisata ReligiModel pembelajaran, interaksi antar-santri, dan kesungguhan peribadatan dan pengajaran tradisional atau salaf di ponpes ini sangat tepat untuk dijadikan rujukan. Selain model pengajaran salaf, Ponpes Gading layak dijadikan sebagai objek wisata ziarah karena silsilah pengasuhnya langsung berhubungan dengan Sunan Gunung Jati. Salah satu dari sembilan wali itu dahulunya menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon dan Jawa Barat.
Mengutip dari lama NU Online, generasi pertama pengasuh ponpes bernama KH Muhammad Yahya. Dia masih keluarga dari sunan yang dimakamkan di Cirebon. Sebagai bukti, hingga kini daftar silsilah dari Sunan Gunung Jati masih tersimpan rapi di Pondok Gading. Daftar silsilah yang dipegang saat ini sekaligus sebagai
free pass (tanda masuk) menuju makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Sebab, tanpa membawa daftar silsilah itu, jangan pernah berharap bisa masuk ke makam Sunan Gunung Jati.
Banyak santri yang selalu tahlil atau yasinan untuk mendoakan pengasuhnya yang telah tiada. Kebetulan makam pengasuh generasi kedua dan ketiga berada di dalam kompleks ponpes tersebut. Tahlil dan yasinan dilakukan para santri sebagai salah satu wujud bakti mereka sebagai seorang murid.
(jqf)