Ziarah dan Tawasul ke Makam Waliyullah Tidak Syirik namun Perlu Berhati-hati
Muhajirin
Kamis, 06 Januari 2022 - 05:40 WIB
Ilustrasi (foto: walisongo.ac.id)
Islam mengenal tawasul dalam berdoa, yakni menggunakan perantara agar doa lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Berdoa dengan tawasul artinya meminta kepada Allah melalui hamba-hamba-Nya yang mulia.
Seseorang bisa tawasul dengan datang kepada ulama atau wali untuk minta didoakan kebaikan. Ini semata-mata husnudzan kepada orang tersebut memiliki doa yang maqbul karena keshalehannya.
Namun, menurut Pengasuh Ponpes Al-Bahjah Cirebon Buya Yahya, jika bertawasul kepada wali yang sudah meninggal mesti dilihat konteks doa yang diucapkan. Misalnya, seseorang berdoa dengan mengatakan, "Wahai Sunan Gunung Jati, berikan saya harta." Ini jenis tawasul yang tidak diperbolehkan, karena sudah termasuk menyekutukan Allah.
Namun jika redaksi doa saat berziarah ke makam wali hanya bertawasul seperti, 'Wahai para wali kekasih Allah, engkau dekat kepada-Nya, mohonkan agar Allah menyelesaikan permasalahan saya', itu termasuk cara berdoa yang perlu kehati-hatian.
"Karena kita menghindari langsung meminta kepada orang meninggal, walaupun akhirnya kepada Allah. tapi ini ada contoh. Memang ada khilaf dalam hal ini, tapi jangan tergopoh-gopoh ini syirik," kata Buya Yahya, dikutip kanal youtube Al-Bahjah TV, Rabu (5/1/2022).
Perlu diketahui, istighosah dibolehkan dalam Islam. Ibnu Katsir dalam Bidaya wan Nihaya pada 17 H mengisahkan orang-orang datang kepada makam Nabi Muhammad SAW. Mereka meminta Rasulullah memohon agar Allah menurunkan hujan.
"Orang datang ke kuburan nabi, 'Ya Rasulullah mintakan kepada Allah agar menurunkan hujan'. Ini riwayat yang menjadikan agar kita berhati-hati untuk mengatakan orang lain kafir. Jadi, kalau minta wahai Sunan Gunung Jati, mohonkan kepada Allah. menurut sebagian ulama ini diperkenankan, tapi kami tetap menghimbau, kalau datang menyebut orang shaleh bukan dengan cara istighasah, tapi dengan cara tawassul dengan doa, 'Ya Allah, dengan kebesaran Sunan Gunung Jati, maka kabulkan doaku." terang Buya Yahya.
Seseorang bisa tawasul dengan datang kepada ulama atau wali untuk minta didoakan kebaikan. Ini semata-mata husnudzan kepada orang tersebut memiliki doa yang maqbul karena keshalehannya.
Namun, menurut Pengasuh Ponpes Al-Bahjah Cirebon Buya Yahya, jika bertawasul kepada wali yang sudah meninggal mesti dilihat konteks doa yang diucapkan. Misalnya, seseorang berdoa dengan mengatakan, "Wahai Sunan Gunung Jati, berikan saya harta." Ini jenis tawasul yang tidak diperbolehkan, karena sudah termasuk menyekutukan Allah.
Namun jika redaksi doa saat berziarah ke makam wali hanya bertawasul seperti, 'Wahai para wali kekasih Allah, engkau dekat kepada-Nya, mohonkan agar Allah menyelesaikan permasalahan saya', itu termasuk cara berdoa yang perlu kehati-hatian.
"Karena kita menghindari langsung meminta kepada orang meninggal, walaupun akhirnya kepada Allah. tapi ini ada contoh. Memang ada khilaf dalam hal ini, tapi jangan tergopoh-gopoh ini syirik," kata Buya Yahya, dikutip kanal youtube Al-Bahjah TV, Rabu (5/1/2022).
Perlu diketahui, istighosah dibolehkan dalam Islam. Ibnu Katsir dalam Bidaya wan Nihaya pada 17 H mengisahkan orang-orang datang kepada makam Nabi Muhammad SAW. Mereka meminta Rasulullah memohon agar Allah menurunkan hujan.
"Orang datang ke kuburan nabi, 'Ya Rasulullah mintakan kepada Allah agar menurunkan hujan'. Ini riwayat yang menjadikan agar kita berhati-hati untuk mengatakan orang lain kafir. Jadi, kalau minta wahai Sunan Gunung Jati, mohonkan kepada Allah. menurut sebagian ulama ini diperkenankan, tapi kami tetap menghimbau, kalau datang menyebut orang shaleh bukan dengan cara istighasah, tapi dengan cara tawassul dengan doa, 'Ya Allah, dengan kebesaran Sunan Gunung Jati, maka kabulkan doaku." terang Buya Yahya.