Langit7, Jakarta - Baru-baru ini beredar pemberitaan di Amerika Serikat terkait jaringan 5G dengan pita frekuensi 3,7 GHz, yang mengganggu penerbangan, khususnya di area sekitar bandara.
Federasi Penerbangan di Amerika (FAA) khawatir C-band yang digunakan jaringan 5G dapat mengganggu radio altimeter. Di mana radio ini digunakan pesawat untuk keselamatan penerbangan yang bergantung pada gelombang udara terdekat.
Intinya, antena 5G yang berada di dekat bandara dikhawatirkan dapat mengganggu sensor penerbangan, khususnya saat pesawat akan melakukan pendaratan dengan mode otomatis.
Baca juga: Dugaan Kebocoran Data Pasien Kemenkes, Kemkominfo Koordinasi Intens dengan BSSNKasus ini menyebabkan dua operator telekomunikasi di Amerika, Verizon dan AT&T menunda peluncuran 5G yang menggunaan C-band berjarak dua mil dari bandara. Selain itu, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden juga akhirnya menunda implementasi pembangunan menara BTS 5G yang akan mereka dirikan dalam waktu dekat.
Menanggapi hal itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate menyebutkan, jaringan 5G yang beroperasi di Indonesia saat ini dijalankan oleh tiga operator seluler nasional, yaitu Telkomsel, Indosat dan XL. Dengan menggunakan dua pita frekuensi seluler existing, yaitu pita frekuensi 1,8 GHz dan 2,3 GHz.
Kasus yang terjadi di Amerika Serikat, jelas dia, terdapat pada jaringan 5G yang bekerja pada pita frekuensi 3,7 GHz, tepatnya pada rentang 3,7-3,9 GHz. Sementara sistem yang dikawatirkan terganggu adalah sistem radio altimeter yang bekerja pada frekuensi 4,2-4,4 GHz.
"Sistem radio altimeter ini merupakan sistem keselamatan utama dan penting dalam pengoperasian pesawat udara, guna menentukan ketinggian posisi pesawat udara terbang diatas tanah," jelasnya dalam Konferensi Pers: Kekhawatiran Dampak Implementasi 5G terhadap Keselamatan Penerbangan, Rabu (19/1).
Baca juga: Menkominfo Setujui Merger Indosat dan HutchisonInformasi yang dimanfaatkan dari penggunaan radio altimeter berperan penting dalam mendukung operasi penerbangan. Terutama dalam hal keselamatan penerbangan fungsi navigasi pada semua pesawat udara.
Rilis yang dikeluarkan Gedung Putih pada Selasa, 18 Januari 2022 menjelaskan, penggelaran jaringan 5G di Amerika Serikat untuk sementara waktu ditunda pada sejumlah kawasan terbatas, khususnya di sekitar bandara utama atau yang disebut dengan key airport.
Namun, pemerintah Amerika Amerika Serikat tetap mengizinkan penggelaran jaringan 5G sesuai jadwal yang telah ditentukan, terutama pada wilayah yang berada diluar bandara.
"Hal itu dapat disimpulkan berarti 90 persen dari rencana penggelaran jaringan 5G tidak terhambat dengan pembatasan tersebut," tegas Johnny.
Paralel dengan pembatasan tersebut, lanjut Johnny, solusi teknis yang bersifat praktis terus diupayakan oleh para stakeholder terkait di Amerika Serikat.
"Untuk konteks Indonesia, perlu kami jelaskan bahwa Indonesia tidak ada rencana untuk menggunakan pita frekuensi 3,7 GHz dalam rangka implementasi 5G. Artinya, Kominfo akan tetap menggunakan pita frekuensi 3,7-4,2 GHz guna keperluan komunikasi satelit," jelasnya.
Baca juga: Perkuat SDM Bidang Digital, Kominfo Kembangkan Desain yang Adaptif dan VisionerAdapun jaringan 5G rencananya akan memanfaatkan pita frekuensi yang lebih rendah, yaitu pada pita frekuensi 3,5 GHz, yang berada pada rentang 3,4-3,6 GHz.
Pengaturan frekuensi 5G di Amerika Serikat menggunakan pita frekuensi 3,7-3,8 GHz, sedangkan Indonesia pada rentang 3,4-3,6 GHz. Sementara alokasi frekuensi untuk radio altimeter yang ditetapkan radio
regulations International Telecommunications Union (ITU) adalah pada rentang 4,2-4,4 GHz.
"Maka pengaturan frekuensi 5G di Indonesia dapat dikatakan relatif aman. Hal ini disebabkan tersedianya guard band sebesar 600 MHz yang membentang dari frekuensi 3,6-4,2 GHz guna membentengi radio altimeter dari sinyal jaringan 5G," katanya.
Menurutnya, guard band tersebut hampir tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan yang disediakan di Amerika Serikat.
Kendati demikian, pihaknya masih terus mengkaji potensi interferensi antara 5G dengan radio altimeter. Dia berharap industri telekomunikasi nasional akan terus berkembang dan bertumbuh, serta menjadi lebih produktif.
(zul)