LANGIT7.ID - Pandemi yang membawa virus Covid-19 mau tidak mau memberikan banyak pengaruh pada pendidikan di Indonesia. Namun ternyata, bukan hanya virus Covid-19 yang berbahaya bagi pendidikan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, memaparkan ada lima virus pendidikan Indonesia. Lima virus itu pelan-pelan mengikis identitas nasional para pelajar Indonesia dari jati diri bangsa.
“Saya tidak akan bilang dosa. Kalau ada yang bilang dosa pendidikan Indonesia itu nanti terlalu sakral. Saya menyebutnya virus saja,” kata Haedar saat memberikan
keynote speech dalam pembukaan forum webinar nasional guru Muhammadiyah, Sabtu (24/7/2021). Kelima virus tersebut yaitu:
1. Virus agnostik atau agnostisisme Virus merupakan bentuk laten dari cara pandang dan kebijakan yang berusaha menjauhkan siswa dari nilai-nilai ketuhanan dan agama. Dua nilai ini dinegasikan dengan ilmu pengetahuan karena dipandang sebagai sumber masalah. Padahal, kata Haedar, hal itu hanya dimunculkan oleh sejumlah kecil oknum-oknum umat beragama saja.
“Ini semacam alam pikiran sekuler dimana ada praktek-praktek terorisme, orang sempit beragama, lalu disebutkan bahwa agama itu adalah sumber masalah. Nah, di dunia pendidikan modern itu sudah mulai masuk,” ucap dia.
2. Virus 'ekstrimisme dan radikalisme apa saja' Haedar menyebut kurikulum di dunia pendidikan belum banyak berubah dari sikap yang generalisir dan stigmatif. Dia menggunakan kata ‘apa saja’ untuk menolak pandangan bahwa ekstrimisme dan radikalisme hanya identik dengan agama, dan lebih khusus kepada Islam.
Dia mengungkapkan, ada pula ekstrimisme dan radikalisme atas nama kebangsaan, yakni chauvinisme nasionalisme yang memandang bahwa nasionalisme-lah yang utama. Agama dan lain-lain itu nomor dua. Itu ekstrim.
"Juga ada ekstrimisme radikalisme karena politik, misalkan separatisme atau ideologi misalnya komunisme, liberalisme, dan lain-lain,” ucap Haedar.
3. Virus kekerasan di dunia pendidikan Virus kekerasan di dunia pendidikan ini banyak terjadi, baik oleh guru kepada murid ataupun murid kepada murid yang lain berupa perundungan atau biasa disebut bullying. Baik secara verbal maupun non verbal.
4. Virus asusila atau pelecehan seksual Haedar menyatakan, meski kasus tersebut terbilang kecil, namun tetap mencoreng dunia pendidikan dan integritas akhlak. Ia meminta agar lembaga pendidikan menjadikan akhlak sebagai kurikulum utama agar hal itu tidak menjadi kultur yang terkondisi.
Kultur yang terkondisi itu artinya insan pendidikan kerap mentoleransi kasus demikian. Kalau dunia guru sudah jebol di aspek low model seperti ini saja, jadi siapa lagi yang bisa digugu dan ditiru jadi teladan?
5. Virus pembodohan Virus pembodohan yakni mengajari murid dengan berbagai hal yang tidak selayaknya diajarkan sehingga membuat civitas akademika tidak tercerahkan.
(jqf)