LANGIT7.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) meluncurkan program Aku Siap Ekspor (ASE) 2.0, guna mendorong produk dalam negeri menjangkau pasar ekspor.
Program yang merupakan lanjutan ASE tahap pertema itu, diluncurkan pada Rabu 23 Februari 2022. Adapun ASE tahap ke-1 telah dilaksanakan sejak Juni 2021 dengan membukukan potensi transaksi ekspor sebesar USD377.889 atau sebesar Rp5,6 miliar, serta transaksi potensial untuk pasar domestik sebesar Rp6,8 miliar.
“Kemendag meluncurkan program kedua dengan nama ASE 2.0, yang cakupannya diperluas bukan hanya produk dekorasi rumah, tapi juga furnitur dan produk gaya hidup,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi dalam keterangannya, dikutip Kamis (24/2/2022).
Baca Juga: Jokowi Lepas Ekspor Perdana Toyota Fortuner Ke AustraliaSelain itu, target pasar ASE 2.0 diperluas dengan merambah ke negara yang memiliki perjanjian dagang dengan Indonesia, baik secara regional maupun bilateral. Di antaranya seperti Jepang, Australia, Swiss, Norwegia, Korea Selatan, Chile, Tiongkok, Mozambik, dan negara kawasan ASEAN.
Dia berharap, langkah tersebut dapat membuat para eksportir di Tanah Air lebih proaktif dalam memanfaatkan preferensi penurunan tarif, serta mendorong pengembangan ekspor ke negara nontradisional.
"Program ini ditargetkan memberikan pendampingan kepada 50 pelaku usaha yang sebelumnya akan diseleksi scara ketat," ujarnya.
Sementara perusahaan yang telah lolos seleksi, lanjut dia, diwajibkan merangkul pelaku UMKM di luar Jawa dan Bali sebagai mitra pemasok atau UMKM asuh. Dengan begitu, diharapkan dapat menciptakan efek yang lebih besar.
Menurutnya pola kemitraan tersebut sangat ideal, karena eksportir dan pelaku UMKM dapat saling membantu dan berkolaborasi.
Sebagai informasi, program ini didesain khusus bagi perusahaan yang memiliki kapasitas ekspor. Program yang akan berlangsung selama setahun itu terdiri atas lokakarya, baik daring maupun luring.
Berikut dengan praktik simulasi, tugas, temu bisnis, pendampingan privat, misi orientasi pasar lokal, serta keikutsertaan pameran dalam dan luar negeri, seperti Indonesia International Furniture Expo (IFEX), Trade Expo Indonesia (TEI), dan pameran internasional lainnya.
Dalam program tersebut, pelaku usaha juga akan mendapat pengetahuan untuk mengekspor produknya dari para tenaga ahli yang terlibat. Bahkan, dapat meningkatkan omzet senilai USD50.000 atau USD2,5 juta untuk 50 UKM setelah mengikuti program ini.
(bal)