LANGIT7.ID, Jakarta - Dosen Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah Situbondo, Ustadz Imam Nakha'i, menilai, kumandang adzan yang berasal dari pengeras suara harus bersahabat di telinga masyarakat.
Imam mengaku risih dengan masjid yang kerap menyetel volume pengeras suara melebihi batas maksimal. Ia ingin semua suara yang keluar dari masjid bisa menenangkan jiwa, bukan malah berisi kebencian pada kelompok yang dianggap ahli maksiat.
Menurut dia, umat Islam harus muhasabah dari beberapa peristiwa penyerangan kepada tokoh agama maupun rumah ibadah yang pernah terjadi dahulu.
Baca juga: Tuai Kontroversi, Ustadz Asroni: Jangan Sampai Lupa Keutamaan Adzan"Apakah rumah ibadah kita sudah ramah lingkungan dan mendamaikan serta memberikan penghargaan?" kata Imam, dikutip dari laman resmi Ma'had Aly Situbondo, Jumat (25/2/2022).
Imam menyitir Surah Al-Isra ayat 110 sebagai landasan argumen suara yang terlalu nyaring dilarang walau di dalam ibadah sekalipun. Ayat tersebut berbunyi:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
"Berdoalah kepada Allah atau kepada yang Rahman, dengan nama apapun engkau berdoa maka Allah memiliki nama-nama yang indah. Jangan keras-keras dalam berdoa dan jangan pula terlalu lirih, cari jalan di antara keduanya."
Dia menilai, ayat tersebut merupakan dalil yang mengajarkan jalan tengah antara dua sikap berlebihan (ekstrim). Aktivitas bernilai ibadah pun tidak boleh berlebihan, apalagi hal yang tidak bernilai ibadah.
Baca juga: Kemenag Minta Publik Tak Negatif Thinking Soal Pedoman Speaker Masjid"Membaca Al-Qur'an, membaca shalawat nabi adalah ibadah, yang juga harus disuarakan dengan jalan tengah, jangan terlalu keras juga jangan terlalu lirih. Apalagi yang membaca ternyata orang, tapi kaset video dan sejenisnya. Apalagi di tengah-tengah malam saat orang seharusnya masih istirahat," kata Imam.
Memang ada pengecualian untuk hal ini, yakni apabila kezaliman tidak dapat dihentikan kecuali dengan menyuarakan dengan nyaring. Dia menukil Surah An-Nisa ayat 148, Allah Ta'ala berfirman:
لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا
"Allah tidak suka terhadap suara nyaring dengan keburukan, kecuali orang-orang yang terzalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Mengetahui."
Al-Qur'an mengajarkan waktu tepat umat Islam menggunakan cara mulia, ucapan lembut, ucapan jujur, qaulan ma'ruf, maupun qaulan baligh. Umat Islam membutuhkan keteladanan, bukan hanya nasehat-nasehat, apalagi dengan suara yang tidak bersahabat.
(jqf)