LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah berkomitmen mengikis kesenjangan digital dengan pemerataan infrastruktur digital untuk seluruh wilayah di Indonesia.
Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengungkapkan pengadaan satelit multifungsi dapat membantu Pemerintah menyelesaikan target penyediaan akses layanan internet yang merata.
“Jaringan pita lebar backbone, kita telah menggelar 360.000 Km fiber optik di darat dan dasar laut. Kalau kita pegang ujungnya dan mengitari bumi, itu 9 kali lipat panjangnya. Apakah sudah cukup? Belum! Oleh karena itu, kita tetap harus menghubungkan seluruh titik-titik yang belum terhubung agar arus data bisa disalurkan dengan baik dan merata," ujar Johnny G Plate dalam keterangan tertulis, Rabu (16/3/2022).
Baca juga: Gandeng Telkomsel, Angkasa Pura II Perluas Layanan 5G di Bandara SoettaMenurut Johnny, tidak semua wilayah bisa dihubungkan dengan jaringan fiber. Sehingga perlu upaya untuk mengkombinasikan dengan microwave link yakni komunikasi satelit.
Menurut Johnny agar layanan komunikasi satelit bisa optimal, Kementerian Kominfo memilih teknologi terbaru dan sesuai dengan kebutuhan wilayah kepulauan di ekuator.
“Untuk pengadaan satelit, saya telah meminta untuk menyiapkan agar satelit berikutnya adalah satelit dengan teknologi software defined satellite, yakni satelit yang wilayah layanannya bisa diatur melalui software-nya di hulu,"tegasnya
Dengan demikian, nantinya teknologi baru ini akan memberikan atau memungkinkan harga-harga satelit yang lebih kompetitif.
Menkominfo menjelaskan, HBS merupakan cadangan untuk SATRIA-I menggunakan teknologi very high-throughput sedang dibangun dan dijadwalkan selesai pada pertengahan 2023. Satelit HBS juga menyediakan kapasitas tambahan bagi infrastruktur jaringan internet.
Baca juga: Kunjungi Inggris, Kominfo Kantongi Komitmen Pembiayaan HTS 650 Juta Pounds"Dari sisi bandwith, HTS dengan teknologi yang baru ini memiliki kapasitas yang setara dengan Satelit SATRIA-I. Untuk jelasnya, 150 Gbps ini dipakai oleh BAKTI Kominfo sebesar 80 dan lebihnya akan dipakai negara-negara di sekitar ASEAN. Penggunaan sendiri oleh PSN untuk menggantikan kebutuhan Satelit Nusantara-2 yang gagal diletakkan diorbit pada April tahun 2020 yang lalu,” jelasnya.
Menteri Johnny menegaskan telah mempertimbangkan aspek teknis oleh operator, pengguna, maupun pabrik pembuatan satelit.
(sof)