LANGIT7.ID, Jakarta - Kesuksesan ajang
Pertamina Grand Prix of Indonesia, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggalkan banyak kisah. Selain aksi viral Rara sebagai pawang hujan, sampah menumpuk di bangku tribun penonton juga tak luput dari perhatian.
Salah satu relawan kebersihan membagikan kondisi tersebut melalui akun
Twitter @muhammad_getar. Ia membagikan ragam potret sampah yang berserakan seperti bekas kotak makan, alat makan, bekas sisa makanan, hingga botol minuman.
“Capek
banget jadi petugas kebersihan
MotoGP Mandalika. Penontonnya
ninggalin barang aneh-aneh lagi,” tulis akun tersebut.
Pihak Sirkuit Mandalika sebenarnya sudah mempekerjakan banyak petugas kebersihan, sekira 500 orang. Para pekerja itu dibagi menjadi dua
shift, yakni pagi sampai sore dan sore sampai tengah malam.
Baca juga: Sukses Gelar MotoGP, Sirkuit Mandalika Dilirik Penyelenggara Event Balap Dunia“Kebetulan saya dapatnya yang
short shift. Tepat habis
race. Kebayang
kan gimana sampahnya? Yang
ngga kefoto banyak banget. Jas hujan sekali pakai, botol plastik, botol kaleng, bungkus jajan, kulit kuaci/kacang, tisu, dll. Yang paling
eneg bekas makanan. Bekas makanannya
dibiarin aja gitu. Ini
nih yang paling menyengat baunya,” tulis akun tersebut.
Pengguna akun twitter @wasta4change juga membagikan pengalaman serupa. Bahkan, sampah harian MotoGP Mandalika 2022 disebut mencapai 20 ton. Sampah-sampah tersebut berserakan di tribun penonton.
Dia juga membagikan beberapa foto sampah yang masih berserakan. Banyak pula sampah yang terselip di bawah kursi tribun.
“Tak hanya berserakan di lantai, sampah botol minuman juga ditinggalkan di cup holder yang berada di tiap bangku penonton. Di tribun juga tak dilengkapi tempat sampah,” kata akun itu.
Apakah Kebiasaan Buruk itu Bisa Diubah?Masyarakat Indonesia memang dikenal belum bisa mengelola sampah mereka sendiri. Namun, kebiasaan buruk bukan berarti tidak bisa diubah. Minimal mulai dari diri sendiri.
Mengutip laman
Gramedia, ada beberapa tahap yang bisa dilakukan untuk mengubah kebiasaan buruk. Pertama, memusatkan perhatian. Kebiasaan biasanya muncul dari pemusatan perhatian. Ketika perhatian sudah terfokus pada kebiasaan baik yang berlawanan dari kebiasaan buruk itu, maka ke depannya tinggal dilakukan secara berulang-ulang.
Baca juga: PLN Berperan Penting dalam Kesuksesan Ajang MotoGP MandalikaKedua, dipraktikkan secara berulang-ulang. Kebiasaan pada dasarnya terbentuk dari tindakan atau perilaku yang secara sengaja dilakukan. Sehingga, untuk membiasakan kebiasaan baik pun harus dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang.
Ketiga, melakukan hal itu tanpa berpikir terlebih dahulu. Otak telah merekam perilaku secara sengaja dan dilakukan berulang-ulang. Sehingga, seseorang bisa melakukan satu kebiasaan itu tanpa berpikir terlebih dahulu.
Baca juga: Green Ramadhan, Latih Diri Tunaikan Puasa yang Ramah LingkunganItu karena hal tersebut sudah terbiasa dilakukan dan terekam jelas dalam otak sebagai respons berulang terhadap situasi yang sama.
Nah, jadi tahapan mengubah kebiasaan buruk sudah jelas. Fokus pada kebiasaan yang ingin diubah. Lalu, lakukan secara berulang-ulang kebiasaan baik yang berlawanan dengan kebiasaan buruk tersebut. Misal, kebiasaan buang sampah sembarangan diubah dengan terbiasa buang sampah di tempat sampah.
Setelah kebiasaan itu dilakukan berulang-ulang dalam waktu lama, maka otak akan merekam. Sehingga, saat ada sampah di tangan, otak secara refleks memerintahkan untuk membuangnya di tempat sampah.
(jqf)