LANGIT7.ID - , Jakarta - Sya’ban merupakan bulan yang sangat penting sebelum memasuki bulan istimewa, Ramadhan. Kini, umat Muslim berada di tengah bulan Sya’ban, petanda Ramadhan tinggal belasan hari lagi.
Sekretaris Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (MUI), Hidayat Tri Sutardjo mengatakan ada beberapa ilmu yang harus dipersiapkan di bulan Sya’ban.
"Bulan Sya'ban waktunya untuk mempersiapkan ilmu yaitu fatsbutu atau meneguhkan, pemahaman terhadap amaliyah Ramadhan, meneguhkan mental, memperbanyak puasa sunnah, memperbanyak baca Alquran, dan menghindari perbuatan yang sia-sia," tulis Hidayat Tri yang dikutip dari laman MUI Digital, Selasa (15/3/2022).
Baca juga: Prediksi Muhammadiyah, Persis, dan NU terkait 1 Ramadhan 1443 HRamadhan adalah bulan yang tepat untuk memaksimalkan perbuatan baik tidak hanya kepada Sang Pencipta
(hablu min Allah), tetapi juga kepada sesama manusia
(hablu min al-nas) dan semesta
(hablu min alam). Di Ramadhan 1433 H ini, Hidayat mengajak umat Islam untuk meningkatkan amal ibadah. Tak hanya amal ibadah yang bermakna bagi diri sendiri dan sesama manusia, tetapi juga bermakna bagi pemuliaan bumi dan kelestarian alam.
"Melakukan pelbagai aktivitas yang ramah lingkungan, namun tetap disertai dengan semangat yang penuh kreasi dan inovasi bisa dilakukan pada Ramadhan," tuturnya.
Menurut dia, kegiatan-kegiatan tersebut seperti pengurangan sampah sisa-sisa makanan, terutama di waktu berbuka, mengurangi penggunaan botol plastik, menghentikan penggunaan
styrofoam. Lebih lanjut, Hidayat berkata, kegiatan-kegiatan seperti diutarakan di atas harus dihentikan atau paling tidak dikurangi.
"Sehingga dengan
Green Ramadhan ini, paling tidak kita bisa melatih diri untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan yang lebih ramah lingkungan, bertanggung jawab secara sosial, dan mengamalkan ajaran-ajaran Nabi Besar Muhammad SAW," kata Hidayat.
Baca juga: Jelang Ramadhan, Revalina S Temat Ingatkan Anak untuk Puasa PenuhKarena, krisis lingkungan dan krisis iklim sejatinya adalah krisis moral, sehingga penyelesaiannya tidak bisa instan, artinya tidak cukup hanya dengan imbauan-imbauan atau ajakan-ajakan saja tetapi juga dilakukan dengan gerakan-gerakan.
"Oleh karenanya, membangun kesadaran dan merubah perilaku dari yang sebelumnya tidak ramah lingkungan menjadi kesadaran dan perilaku yang ramah lingkungan adalah dua tugas atau peran manusia harus secara sistematis, berkelanjutan dan konsisten dilakukan," pungkasnya.
(est)