LANGIT7.ID, Jakarta - Hari ini, 21 April, diperingati sebagai harinya perempuan Indonesia yang biasa disebut sebagai Hari Kartini. Sosok Kartini menjadi inspirasi bagi perjuangan kemajuan perempuan Indonesia.
Kartini merupakan santriwati khusus Kiai Soleh Darat dari Semarang. Ia berasal dari keluarga cerdas. Sang kakak, R. Sosrokartono, menguasai 27 bahasa dunia, meski ada pula yang menyebut 21 bahasa.
Menurut pemerhati sejarah asal Surabaya, Bustomi, saat menempuh pendidikan di Jawa, Kartini sudah menyuarakan edukasi bagi perempuan agar tak jadi pelengkap pria saja. Satu pelajaran penting yang didapat dari Kiai Sholeh Darat, perempuan adalah madrasah utama dan pertama bagi anak-anak mereka, sehingga penting dibekali pendidikan.
Baca juga: Iriana Jokowi: Hari Kartini Dimaknai Sebagai Era Kebangkitan Perempuan“Atas usaha Kartini tersebut, maka hari kelahiran Kartini pada 21 April diperingati sebagai hari di mana penyetaraan pendidikan antara lelaki dan perempuan bermula,” kata Bustomi di lamannya, dikutip Kamis (21/4/2022).
Muncul kemudian pertanyaan mengapa harus Kartini? Jauh sebelum kelahirannya, ada Laksamana Keumalahayati sebagai panglima perang angkatan laut pertama di dunia.
Apa kelebihan Kartini dibanding panglima perang gerilya Aceh, Cut Nyak Dhien, atau wartawati pertama di Indonesia asal Sumatera Barat, Rohana Kudus, atau Christina Martha Tiahahu dari Maluku, pejuang muslim yang memimpin perang melawan penjajah?
Jika berbicara soal Kartini, ada dua penjelasan utama yang perlu dicermati.
Kartini Menuliskan IdeKartini menuliskan ide-idenya, meski masih dalam bentuk surat, terkait perempuan dan kultur yang dirasa mengekang kebebasan perempuan saat itu. Dia pernah menembus dua media ternama Belanda. Itu prestasi luar biasa saat itu. Dari situ, dunia mengenal ide dan pemikiran Kartini sebagai tokoh perempuan.
Tulisan Kartini pernah masuk sebuah jurnal ilmiah ternama
Bijdragen tot de Taal Land en Volkenkunde (Jurnal Humaniora dan Ilmu Pengetahuan Sosial Asia Tenggara) dengan judul artikel
Het Huwelijk bij de Kadja’s (Perkawinan Itu di Kota). Artikel itu menceritakan tentang upacara suku Koja (warga keturunan Arab) di Jepara.
Baca juga: Honda Ajak Kartini Masa Kini Peduli Keselamatan BerkendaraJauh dari itu, sebuah penerbit ternama dari Belanda meminta artikel Kartini untuk diterbitkan. Namun hal itu ditolak oleh Mohammad Hatta dengan penulisan nama anonim sekalipun.
“(Hatta) berdalih demi keamanan, mengingat Kartini dan keluarganya masih menjaga betul tradisi Jawa yang ketat soal ‘perempuan’,” kata Penulis Buku
Pemikiran Politik Luar Negeri Agus Salim ini.
Bahkan, majalah perempuan ternama
De Echo di Jogja kerap memuat tulisan Kartini dengan nama Tiga Serangkai.
Konteks Sosio-KulturalDalam konteks sosio-kultural, lingkungan Kartini begitu represif terhadap perjuangannya. Jika dibandingkan dengan kultur Aceh, di sinilah kelebihan Kartini. Di Aceh, perempuan menjadi Sultanah atau panglima perang adalah hal lumrah. Konteks budaya itu yang membuat Kartini layak mendapatkan kehormatan.
“Nah, sekarang yang mesti dikritisi sebenarnya adalah, di Hari Kartini ini, apa yang mesti dilakukan perempuan? Sesuai dengan karakter dan semangat Kartini, ya menulis, bukan malah memakai kebaya di mana-mana,” kata Bustomi.
Peringatan Hari Kartini sekarang lebih banyak seremonial dan berkutat pada per-kebayaan, tetapi mengabaikan aspek literasi. Padahal, literasi merupakan sarana perjuangan Kartini.
“Karenanya, menurut hemat saya, meneladani Kartini adalah bagaimana menyemai ide dan pemikirannya, serta aktif dalam upaya meningkatkan kemampuan dan pendidikan perempuan yang di banyak tempat masih kurang lebih sama seperti di era Kartini hidup,” kata Bustomi.
(jqf)