LANGIT7.ID, Jakarta - Penyebab tingginya kematian
jemaah haji Indonesia diduga karena terlalu memporsir sejumlah ibadah sunnah. Padahal rangkaian haji membutuhkan energi yang besar.
Kepala Pusat Kesehatan Haji Indonesia Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Budi Sylvana mengatakan, kondisi ini pun berlaku bagi jemaah haji yang memiliki penyakit bawaan, salah satunya kardiovascular dan pernapasan.
"Akibatnya ketika berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang membutuhkan energi besar, banyak jamaah kelelahan dan meninggal dunia," kata Budi dilansir
NU Online, Rabu (18/5/2022).
Menurut dia, tingkat kematian jamaah haji Indonesia dalam 10 tahun terakhir sekitar 2 per mil. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan India yang tingkat kematiannya hanya 1 per mil atau Malaysia yang pada 2019, hanya 0,3 per mil.
Baca Juga: Kemenag: Asrama Haji Pondok Gede Siap Layani JemaahKarakter jamaah haji bermacam-macam. Mereka yang sering umrah bisa mengelola ibadah dengan baik, namun bagi yang baru pertama kali ke Mekkah, akan benar-benar memaksimalkan ibadah.
Porsir ibadah sunnah ini membuat para jemaah tak kuat ketika menjalani ritual di Arafah, Muuzdalifah, dan Mina. Mereka harus berjalan kaki dalam cuaca panas sekitar 7 kilometer selama 3 hari hingga akhirnya kelelahan.
"Akibatnya, bagi yang kondisi badannya telah melemah, jamaah haji berisiko tinggi rentan mengalami kematian," ujar dia.
(bal)