Cegah Konflik Rumah Tangga, Ustadz Ginanjar: Utamakan Komunikasi
hasanah syakimSabtu, 25 Juni 2022 - 11:56 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Permasalahan ekonomi menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan dalam kasus perceraian. Tak hanya soal nafkah saja, namun bisa transparansi dalam mengelola keuangan.
"Misalnya kalau beli sepeda gunung seharga Rp10 sampai Rp15 juta langsung dibeli. Tapi ketika diminta buat beras sulitnya minta ampun dan lain sebagainya," ujar Ustadz Ginanjar dalam tayangan Program "Apa Kabar Ustaz" dikutip Jum'at (24/6/2022).
Pinjaman online atau pinjol, menurut Ustadz Ginanjar, juga berperan dalam keretakan hubungan rumah tangga. Misalnya, ketika istri pinjam tanpa sepengetahuan suami atau sebaliknya.
"Betul saya pernah menangani sampai Rp30 juta udah dibayar sama suaminya, ternyata ada 70 juta dibayar lagi, terakhir 100 juta. Aduh, udah angkat tangan suaminya dan berakhir dengan perceraian," ungkapnya.
Ustadz Ginanjar pun menceritakan pengalamannya dalam menangani kasus serupa. Di mana komunikasi menjadi hal penting dalam hubungan suami istri.
"Makanya suami harus sering komunikasi dengan istri, apakah nafkahnya cukup atau tidak. Karena terkadang seorang istri tidak berani untuk berbicara kepada suami," katanya.
Apabila ada kebutuhan, lanjut Ustadz Ginanjar, suami diminta untuk tidak langsung marah. Padahal ada kebutuhan lain yang memang penting dan pokok bagi keluarga yang harus dipenuhi.
"Akhirnya mencari jalan pintas. Selain itu juga ada karena memang gaya hidup misalnya karena pergaulan. Jadi, faktornya memang luas termasuk orang ketiga salah satunya dampak dari media sosial, atau grup whatsapp dan lainnya hingga terjadi cinta lama bersemi kembali (CLBK)," terangnya.
Ustadz Ginanjar menerangkan, Rasul sendiri pun pernah mengalami permasalahan dalam berumahtangga. Hanya saja Rasul biasa menanggapinya dengan guyonan atau dibiarkan sebab dengan sendirinya akan mereda.
"Kemudian Rasul juga terkadang berpisah ranjang. Tapi kemudian jika memang sudah keterlaluan beliau juga marah. Hanya saja kemarahan Rasul bukan berdasarkan emosi tetapi karena berdasarkan pertimbangan syariat," tuturnya.
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”