LANGIT7.ID, Magelang - Siapa sangka produk hasil tani bisa menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Bahkan dari hasil penjualan produk pangan bisa mendapatkan perolehan nilai yang cukup menguntungkan.
Suharso, muslim asal Magelang berhasil membuktikan itu. Dari hasil bertani, ia mampu membeli motor Harley Davidson yang sering disebut motor kelas atas dan hanya dimiliki oleh konglomerat. Ia juga mengaku sering ikut kegiatan touring bersama rekan di komunitas motornya.
“Sebetulnya saya memang sejak masih muda dulu melihat orang naik Harley itu rasanya ingin punya. Alhamdulillah, kini saya beli Harley, dan sampai sekarang saya sering
touring bersama teman lainnya,” ujarnya dikanal Youtube CapCapung.
Suharto (65) adalah pensiunan guru Sekolah Dasar di Magelang. Motor Harley yang dibelinya ini merupakan hasil jerih payahnya yang juga bekerja sebagai petani cabai.
Sempat pada saat sekali panen, Suharto menghasilkan 500 ton dalam setahun dari hasil tani cabai dan beragam jenis sayuran lainnya. Kini lahan taninya juga telah mencapai luas 10 hektare dan memperkerjakan 34 orang warga sekitar.
“Urusan pemasaran sangat mudah, karena kebetulan dekat rumah saya itu ada pasar. Bahkan pedagang juga sering datang ke ladang, mereka minta agar bisa mendapatkan langsung hasil pangan dari lahan saya,” ujarnya.
Suharto mendapatkan ilmu tani secara otodidak. Dari kegagalan di awal mula bertani dijadikan pelajaran baginya untuk bisa memahami karakteristik jenis tanaman yang beragam.
“Setelah banyak mencoba dan belajar, akhirnya saya bisa menemukan pupuk dan obat yang paling cocok, berikut takaran pemberiannya. Dari situ saya bisa memahami karakter tanaman,” ujarnya.
Awalnya Suharto adalah seorang guru SD yang mengabdi dalam dunia pendidikan sejak 1977 hingga pensiun di 2017. Selama menjadi guru, ia merasa penghasilannya saat itu kurang bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.
Sehingga ia akhirnya mencoba untuk memulai bertani. Cabai adalah pilihannya saat itu, dengan pertimbangan selain cabai yang menjadi kebutuhan dapur masyarakat Indonesia, juga memiliki harga yang relatif stabil.
“Saya adalah seorang petani spesialis cabai, tapi dengan tumpang sari saya juga menanam jagung manis, dan ketela pohon,” jelasnya.
![Guru SD di Magelang Ini Bisa Beli Harley dari Bertani Cabai]()
Profesinya sebagai guru, membuat Suharto kian terlatih untuk disiplin membagi waktu pekerjaannya. Ia mengaku setiap paginya mengabdi ke sekolah sebagai pengajar, sepulang mengajar dilanjutkannya ke ladang untuk bertani.
“Berhubungan ketika saya masih menjadi guru, saya tidak meninggalkan tugas sebagai pengajar. Dari pukul 07.00-02.00 WIB siang saya di sekolah, pulang sekolah saya ke sawah sampai maghrib,” ujarnya.
Awalnya, lahan tani Suharto hanya seluas 2.000 meter persegi. Seiring perkembangan, ternyata pertanian Suharto cukup menjanjikan, sehingga memutuskannya untuk memperluas lahan.
“Sesudah setahun dari menanam saya punya modal untuk memperluas lahan hingga satu hektarr. Tidak sampai lima kini lahan saya sudah 10 hektare,” jelasnya.
Suharto mengaku lahan taninya ini adalah bagian dari sewa. Tapi yang terpenting baginya adalah menjadi sosok yang bisa membantu warga sekitar untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Berkat usahanya itu, dia bisa memberikan manfaat kepada orang sekitarnya. Antara lain adalah memenuhi kebutuhan dan menaikkan taraf hidup mereka.
“Jadi yang menguntungkan tentang usaha saya adalah memaksimalkan masyarakat sekitar sehingga mereka tidak menganggur. Mereka bisa punya penghasilan yang bisa mencukupi keluarga mereka. Terlebih, mereka akhirnya bisa membangun rumah permanen, dan menyekolahkan anak-anak mereka,” ujarnya.
Suharto mengajak kepada generasi muda untuk turut serta dalam mendorong perkembagan pertanian Indonesia. Ia menyebutkan, kebutuhan akan produk pangan masyarakat Indonesia tidak akan pernah habis, sehingga masih bergantung kepada sektor pertanian.
“Saya juga ingin menunjukkan kepada generasi muda atau orang lain yang biasanya memandang bertani dengan sebelah mata. Ternyata sesudah digeluti bertani juga bisa menguntungkan. Mari generasi muda berusaha untuk bertani, apabila pertanian modern. Insya Allah hasil pangan tidak hanya mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia, tapi juga di ekspor keluar negeri,” katanya.
(zul)