LANGIT7.ID, Jakarta - Desa Wisata Sembutan dikenal sebagai destinasi dengan keindahan matahari terbit (sunrise) di Puncak Sikunir. Berada di ketinggian 2.300 mdpl, desa yang terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah ini menjadi desa tertinggi di Pulau Jawa.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno mendorong
desa-desa wisata untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi wisatawan.
"Di desa ini, tersedia 40 homestay dengan biaya sewa per kamar antara Rp250 ribu-Rp400 ribu. Fasilitas umum pun lengkap. Seperti halnya desa wisata yang lain, destinasi wisata di desa ini telah memenuhi standar penilaian tim juri ADWI 2022 yang terdiri dari tujuh kategori," ujar Sandiaga dikutip Kamis (14/7/2022).
Baca juga: Desa Wisata Sikasur, Padukan Budaya dan Potensi Alam yang MemukauLokasi Desa Sembungan begitu mudah untuk dijangkau terutama dari arah Wonosobo yaitu berjarak sekitar 24 kilometer atau dapat ditempuh dengan waktu 55 menit. Di desa ini wisatawan dapat menikmati berbagai daya tarik yang ditawarkan.
"Yakni daya tarik pengunjung (alam dan buatan, seni dan budaya), suvenir (kuliner, fesyen, dan kriya), homestay, toilet umum, digital dan kreatif, cleanliness health safety dan environment sustainability (CHSE), dan kelembagaan desa," ungkap Sandiaga.
Dengan demikian, tak heran jika Desa Wisata Sembutan berhasil masuk ke dalam 50 besar ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
Sandiaga menuturkan, selama pandemi Covid-19 desa wisata ini menjadi salah satu pilihan, bahkan kenaikan kunjungan wisata hingga 30 persen berdasakan big data yang dikumpulkan dari berbagai sumber.
"Ini bisa menjadi suatu momentum kebangkitan kita bersama, Kemenparekraf berkomitmen untuk memasukan desa wisata sebagai program unggulan," katanya. Menurut dia, demokratisasi pariwisata bermakna memberikan dampak pariwisata yang berkeadilan. Sebab, desa wisata ini yang merasakan seluruh masyarakat langsung.
"Kunjungan setiap tahun di Desa Wisata Sembungan 250 ribu itu langsung berdampak kepada masyarakat di sini," jelasnya.
Selanjutnya, Sandiaga mengatakan perpaduan antara destinasi wisata alam Telaga Cebong dan wisata budaya Potong Rambut Gimbal menjadi daya tarik yang fantastis, untuk meningkatkan potensi wisata di desa tersebut.
"Saya ingin berikan tepuk tangan kepada Astra yang telah menjadikan ini Tunas Kampung Berseri Astra. Sebagai mitra kita untuk membangkitkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya," ucapnya.
Sandiaga menambahkan, Puncak Sikunir juga menjadi destinasi ikonik unggulan, di mana objek wisata tersebut menawarkan keindahan pemandangan matahari terbit yang tiada duanya.
"Untuk dapat menikmati sunrise di sana, wisatawan dapat mengunjunginya pada musim kemarau di mana cuaca cenderung lebih cerah dan tak berkabut. Dalam perjalanan menuju puncak bukit, wisatawan akan disuguhkan pemandangan yang indah," ungkap Sandiaga.
Salah satunya adalah pemandangan Telaga Cebong, sebuah telaga yang terjadi dari bekas kawah purba, dulunya memiliki luas sekitar 18 ha, akan tetapi lama kelamaan mulai menyempit dan tersisa sekitar 12 Ha.
Baca juga: Desa Wisata di Bali Didorong Terapkan Prinsip Pariwisata Berkelanjutan"Lokasi Telaga Cebong berada di sebelah barat Gunung Sikunir dengan bentuk menyerupai cebong atau berudu mungkin dari bentuk itulah akhirnya telaga ini diberi nama telaga cebong," ujarnya.
Selain itu, ada air Terjun Sikarim sebagai curug tertinggi yang ada di Pulau Jawa karena memiliki ketinggian sekitar 125 meter. Airnya mengalir melewati tebing batu yang sangat tinggi, terdapat beberapa aliran air di tebing tersebut, air yang mengalir berasal dari Telaga Cebong.
Sementara soal potensi seni dan budaya, desa tersebut memiliki beragam tarian. Salah satunya, Tari Angguk. Tari tersebut merupakan hiburan atau pendukung untuk menyemarakkan perhelatan, pernikahan atau nadir (membayar janji). Lalu ada budaya Ruwatan Cukur Gimbal.
Itu merupakan upacara pemotongan (cukur) rambut pada anak-anak berambut gimbal (gembel). Ritual ruwatan yang diadakan pada tanggal satu suro menurut kalender jawa ini bertujuan untuk membersihkan atau membebaskan anak-anak berambut gimbal dari sukerta atau sesuker (kesialan, kesedihan, atau malapetaka).
"Soal kuliner, wisatawan dapat berburu Carica, Terong Belanda, dan Purwaceng," katanya.
(sof)