LANGIT7.ID, Denpasar - Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo mendorong desa wisata di sekitar Sungai Tukad OOS, Bali menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan.
Menurut Angela, di sekitar Sungai Tukad OOD, Bali terdapat 10 desa wisata di antaranya Desa Singapadu Tengah, Desa Batuan, Desa Lodtunduh, Desa Sayan, Desa Singakerta, Desa Kliki, Desa Buahan, Desa Bukian, Desa Kerte, dan Desa Taro.
"Bali sebagai the heart of Indonesia tentunya sudah menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan ini sejak lama. Ada filosofi yang dikenal sebagai 'tri hita karana' yang mengajarkan kita untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan Sang pencipta, alam dan sesama," kata Angela dikutip Rabu (13/7/2022).
Baca juga: Ini Alasan Pembatasan Wisatawan di Taman Nasional KomodoLebih lanjut, Angela menjelaskan hal tersebut menjadi inti dari pariwisata berkelanjutan di mana pariwisata yang tidak menggerus, pariwisata yang semakin berkembang jika dilestarikan pariwisata yang manfaatnya bisa diberikan dari generasi ke generasi.
"10 desa wisata ini memiliki potensi alam dan budaya yang besar. Guna memaksimalkan potensi yang ada, Kemenparekraf memiliki beberapa langkah kongkrit dalam mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan di Tanah Air," tegasnya.
Kemenparekraf telah mengeluarkan berbagai kebijakan, kekuatan kelembagaan, dan program-program untuk memperkuat ekosistem pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
"Program desa wisata berkelanjutan menjadi salah satu program kunci dari Kemenparekraf. Di mana sesuai RPJMN tahun 2020 - 2024, ditargetkan ada 244 desa wisata yang maju dan mandiri hingga akhirnya tersertifikasi berkelanjutan," jelasnya.
Angela menuturkan, sudah 293 desa wisata yang masuk kategori maju dan mandiri, dan baru sekitar 33 desa wisata yang baru tersertifikasi berkelanjutan.
Baca juga: Renovasi TMII Capai 70 Persen, Ditargetkan Selesai Akhir JuliDia mengatakan kolaborasi dengan berbagai pihak perlu lebih diperkuat lagi untuk mendorong desa-desa wisata tersertifikasi berkelanjutan, sehingga desa wisata di Indonesia bisa naik kelas dan semakin unggul.
"Saya kira, kita bisa kembangkan berbagai event. Kita bisa kolaborasikan promosi bersama dan penggunaan teknologi, dan penguatan standar layanan yang meningkatkan praktik usaha lebih berkelanjutan lingkungan, melestarikan kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat setempat," ujar Angela.
(sof)