LANGIT7.ID, Jakarta - Kisah
Syekh Abu Abdurrahman Hatim bisa dijadikan contoh pembelajaran bagi umat Islam. Dia
berpura-pura tuli sampai 15 tahun demi menjaga aib orang lain.
Dikutip dari
kitab Tadzkirotul Auliya, Syekh Hatim dijuluki Al-Asham (tuli). Padahal sebetulnya, dia bisa mendengar secara normal.
Julukan itu disematkan padanya karena pada suatu masa dia mendapati kunjungan seorang wanita untuk menanyakan suatu perkara. Namun di tengah pertanyaannya, si wanita buang angin tanpa sengaja.
![Belajar dari Syekh Hatim, Pura-Pura Tuli demi Jaga Aib Orang]()
Hingga terdengarlah suara kentut oleh
ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak, pada tahun 852 Masehi/237 Hijriah itu. Tampak wajah wanita itu memerah menahan malu.
Baca Juga: Kisah Pria Ingin Berzina dan Beritahu Rasulullah, Ini Jawab BeliauMelihat perangai wanita yang sudah terlanjur malu, Syekh Hatim tiba-tiba saja berkata agak keras, "Ulangi suaramu lebih keras!" katanya.
Kaget mendengar suara Syekh Hatim yang dilontarkan keras, wanita itu kebingungan. Sampai Syekh Hatim mengulangi perkataannya sekali lagi.
"Hai! keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kau bicarakan!" kata Syekh Hatim sambil mengeraskan suaranya lagi.
Saat itu, si wanita mulai menduga bahwa Syekh Hatim adalah seorang yang tuli. Dia pun merasa cukup lega, karena menganggap suara kentutnya tidak sampai terdengar.
Sampai rasa malu wanita itu mulai pudar. Dia pun kembali mengulang pertanyaannya kepada Syekh Hatim.
Syekh Hatim terus berpura-pura tuli untuk menjaga rasa malu dan aib wanita tersebut selama dia hidup, bahkan kurang lebih sampai hampir 15 tahun lamanya. Bukan tanpa alasan, dia juga berpura-pura tuli untuk menjaga kehormatan tamunya.
![Belajar dari Syekh Hatim, Pura-Pura Tuli demi Jaga Aib Orang]()
Setelah meninggalnya wanita itu, Syekh Hatim menjawab pertanyaan orang-orang dengan spontan tanpa berpura-pura tuli lagi.
Dari sini kita bisa belajar bagaimana seorang ulama besar menutup aib untuk menjaga kehormatan tamunya. Bahkan dia rela berpura-pura tuli lebih dari satu dekade.
Seperti sabda Rasulullah SAW, yang artinya: "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Imam Bukhari dan Muslim).
(bal)