LANGIT7.ID, Jakarta - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menggelar pembukaan pelatihan Program Santripreneur, demi mendorong kemandirian para santri dalam berwirausaha. Pelatihan digelar secara daring dan disiarkan di kanal YouTube Baznas TV, pada Rabu (20/7/2022).
Program Baznas Santripreneur adalah sebuah program pembinaan, pendampingan, dan pelatihan bisnis serta bantuan modal usaha yang ditujukan kepada para alumni santri yang bertujuan untuk menguatkan dan meningkatkan kesejahteraan para alumni santri dalam pengembangan kewirausahaan UMKM berupa bantuan modal usaha, pelatihan, dan pendampingan.
Ketua Baznas RI, Prof Noor Achmad mengatakan Program Santripreneur merupakan salah satu upaya Baznas dalam mengangkat perekonomian santri dan keluarganya. Dengan bekal berwirausaha, para alumni santri diharapkan dapat menjadi
role model kesuksesan dan menjadi contoh baik bagi orang sekitar.
"Baznas mempunyai keinginan agar para santri dapat menjadi muzaki di kemudian hari, agar para santri pada akhirnya akan menguasai perekonomian yang ada di Indonesia dan dunia. Harapan kita semuanya dengan santripreneur tersebut akan menjadikan para santri kreatif dalam menjalankan usaha, sehingga menuju arah kesuksesan dan bermanfaat bagi sekitar," kata Noor.
Baca Juga: Kemenag Dorong Perguruan Tinggi Terapkan Kurikulum ZakatDalam Program Santripreneur ini, potensi pesantren yang begitu besar dapat menjadi faktor pendukung keberhasilan usaha para santri. "Pesantren adalah pasar yang luar biasa dan memiliki potensi yang besar. Besar harapan kami agar semua pihak yang terlibat dapat memanfaatkan momentum emas ini untuk membangkitkan ekonomi umat," katanya.
"Proses transformasi mustahik menjadi muzaki menjadi tujuan utama Baznas, yang memiliki fokus kuat dalam menyejahterakan umat. Semoga apa yang dicita-citakan dapat terwujud," kata Noor.
Sementara itu, Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan MA, mengatakan Program Santripreneur adalah bagian dari upaya Baznas dalam memberdayakan potensi dan social capital pesantren.
"Karena kalau dilihat dari jumlah pesantren di Indonesia kita punya 34.632 pesantren yang santrinya mencapai sekitar 4,7 juta. Ini adalah social capital yang akan diberdayakan oleh Baznas, yang akan jadi penggerak ekonomi dan memunculkan inovator inovator berbasis pesantren," kata Saidah.
Baca Juga: Kemenag: Peran Masjid Sangat Vital dalam Bangun Nilai Keagamaan"Ini yang menjadi
background, bonus demografi pesantren jadi social capital yang diberdayakan, dan akan menjadi potensi utama di dalam pemberdayaan ekonomi umat Islam di Indonesia," imbuhnya.
Baznas ingin menjadikan pesantren menjadi pusat pendayagunaan ekonomi yang menyasar pada tiga pilar. Pertama, Baznas ingin program santripreneur ini bisa memperkuat kelembagaan pesantren. "Jadi istilah kami itu pesantren menjadi simpul kesejahteraan baru. Kita ingin menciptakan pesantren akan menjadi penguatan atau simpul ekonomi umat," katanya.
Kemudian yang selanjutnya adalah pilar sosial, yakni memperkuat lingkungan sekitar. Para santri yang sudah berdaya, maka dia akan menjadi simpul atau orang-orang yang bisa memberdayakan sekitarnya.
Santripreneur menyasar para alumni santri yang datang dari keluarga mustahik, yang diharapkan dapat berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Penerima manfaat program Baznas Santripreneur adalah sebanyak 5.000 orang, dan 281 di antaranya mengikuti pelatihan yang terbagi dalam 3 batch.
Pada pelatihan batch 1 diikuti 100 penerima manfaat digelar pada 20 Juli, kemudian batch 2 pelatihan diikuti 100 penerima manfaat rencananya digelar pada 28 Juli, dan batch 3 diikuti 81 penerima manfaat diadakan pada 3 Agustus. Setiap batch dilaksanakan dalam satu hari, dengan tiga materi unggulan dalam program Santripreneur dan 1 kisah sukses dari lulusan santri yang berhasil.
Baca Juga: Pebalap Motor Arbi Catat Waktu Sempurna di JuniorGP(zhd)