LANGIT7.ID, Jakarta - Elemen masyarakat Lamongan menolak lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet yang belakangan viral di media sosial. Tokoh masyarakat setempat menilai lagu itu tidak pantas dan dianggap merendahkan Joko Tingkir yang merupakan tokoh panutan masyarakat Lamongan. Lalu, siapa sebenarnya Joko Tingkir?.
Nama asli Joko Tingkir adalah Mas Karebet putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Beliau merupakan murid Raden Said atau Sunan Kalijaga. Saat dilahirkan, sang ayah sedang menggelar wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Sepulang mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan berpulang.
10 tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kerajaan Demak. Tak selang lama, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal dunia. Sejak saat itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir.
Baca Juga: Habiburrahman: Budayawan Muslim Wajib Bentengi Umat dari Budaya Destruktif
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa. Dari situ dia dijuluki Jaka Tingkir. Dia pertama kali berguru kepada Sunan Kalijaga. Dia juga berguru kepada Ki Ageng Sela.
Jaka Tingkir memutuskan mengabdi pada Kerajaan Demak. Di situ, dia diangkat menjadi kepala prajurit Kerajaan Demak oleh Sultan Trenggono. Atas jasa-jasa pengabdian itu, dia diangkat sebagai Adipati Pajang dengan gelar Adipati Adiwijaya dan dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggono.
Saat Trenggono meninggal pada 1546, Kerajaan Demak mengalami pergolakan akibat perebutan kekuasaan.
Kekacauan dapat diakhiri setelah Jaka Tingkir berhasil menyingkirkan Arya Penangsang, keponakan Sultan Trenggono yang membunuh Sunan Prawoto, penerus tahta Kerajaan Demak. Jaka Tingkir secara otomatis menjadi pewaris tahta Kerajaan Demak dan memindahkan ibu kota ke Pajang, yang terletak di perbatasan Surakarta dan Kartasura.
Baca Juga: Dari Syekh Subakir hingga Mbah Wasil, Penyebar Islam di Nusantara
Atas dasar itu, Adipati Adiwijaya dinobatkan sebagai pendiri dan raja pertama Kerajaan Pajang pada 1568 dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Dia juga yang berhasil mengantarkan Pajang ke puncak kejayaan.
Karena Pajang terletak di pedalaman, Pajang bersifat agraris dan mengandalkan pertanian sebagai tulang punggung perekonomian. Di bawah pemerintahan Jaka Tingkir, wilayah kekuasaan Kerajaan Pajang mencapai Madiun, Blora, dan Kediri.
Pada 1582 M, perang antara Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram Islam meletus. Sepulang dari pertempuran, Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia.
(jqf)