LANGIT7.ID, Jakarta - Titimangsa bersama Indonesiakaya menghadirkan seni pertunjukan bertajuk Sudamala: Epilog Calonarang sebagai produksi ke-59.
Pementasan ini terinspirasi dari pentas tradisi Bali yang berangkat dari sastra. Sundamala rencana akan pentas 10-11 September 2022 di Gedung Arsip Nasional.
Produser Sundamala, Nicholas Saputra bersama Happy Salma menyiapkan pementasan tradisi ini sejak akhir tahun lalu. Selama pandemi keduanya kerap melakukan diskusi mengenai seni pertunjukan di Bali, salah satunya Calonarang.
Baca juga: Deretan Film Bertema Partner in Crime, Bonnie and Clyde hingga Heathers"Dilihat dari sisi tradisi maupun dari seni pertunjukan: dramaturgi, gerak penari, kostum dan topeng yang dikenakan serta gamelan yang mengiringi, semua dikreasi dengan detail yang mengagumkan,” kata Nicholas Saputra saat konferensi pers Kamis (25/8/2022).
Menurutnya, Pementasan Sudamala: Dari Epilog Calonarang merupakan karya kolaborasi antara 80 orang seniman bersama maestro Bali dan kota lainnya. Dan menjadi pentas tradisi pertama Titimangsa yang dipentaskan di area terbuka Kota Jakarta.
Sementara itu, Happy Salma mengatakan membawa seni tradisi keluar dari Bali guna membagikan pengalaman penonton di Jakarta bukan hal yang mudah.
"Kami ingin menghadirkan
pentas seni tradisi namun dengan tampilan dan bahasa yang universal. Ini juga tantangan bagi kami untuk membuat formula baru dengan durasi yang jauh lebih pendek, karena biasanya pertunjukan seni tradisi bisa berlangsung 6-8 jam,” ujar Happy Salma.
Sudamala berasal dari kata "śuddha" yang berarti bersih, suci, atau bebas dari sesuatu. Sedangkan "mala" bersinonim dengan cemar, kotor, atau tak-murni. Sehingga makna Sudamala ini diartikan sebagai upaya untuk menghilangkan yang cemar atau kotor dari subyek.
Baca juga: Rachel Amanda Ajak Gen Z Aktif di Kegiatan PositifSutradara Sundamala: Dari Epilog Calonarang, I Made Mertanadi menegaskan, apa yang akan ditampilan di Jakarta akan sesuai dengan tradisi kuno yang sudah berlangsung selama ratusan tahun di Bali.
Namun, dengan tampilan dan sentuhan teknologi modern serta tokoh Bindres yang menyampaikan kisah dalam bahasa Indonesia.
"Pementasan ini juga berkolaborasi dengan seiman-seniman seni pertunjukan luar Bali untuk memberikan perspektif dan cara pandang dari kacamatan luar Bali," katanya.
Sebelumnya, Titimangsa telah menyelenggarakan pementasan “Taksu Ubud” di Bali. Usai pementasan, Cokorda Gde Bayu memperlihatkan katalog Exposition Coloniale Internationale Paris 1931.
Pada perhelatan yang diselenggarakan kaum kolonial itu, Calonarang tampil di Paris selama 6 bulan bersama Legong dan Janger.
(sof)