LANGIT7.ID, Jakarta - Pementasan Wayang Motekar: Let's Save the Earth! menjadi penutup
Musim Seni Salihara setelah berjalan selama satu bulan. Pementasan wayang kontemporer ini dikuratori oleh Herry Dim perupa asal Bandung.
Herry bersama kelompok Wayang Motekar mempersembahkan perpaduan antara pertunjukan wayang konvensional, memanfaatkan teknologi digital berupa pemetaan video.
Wayang Motekar dengan lakon Let's Save the Earth! dengan dalang Opick Sunandar Sunarya bercerita tentang kerusakan alam dan pentingnya merawat kelestarian bumi.
Baca juga: Komunitas Salihara Undang Musisi Tanah Air di Salihara Jazz Bazz 2023Herry Dim menyampaikan, masalah ancaman lingkungan hidup yang rusak telah banyak diungkap berita ataupun uraian teks informatif lainnya.
"Namun semua itu akan lain jika diungkap lewat seni. Khususnya Wayang Motekar yang berlandas pada seni gambar," ujar Herry saat pertunjukan di Teater Salihara dikutip Jumat (9/9/2022).
Wayang Motekar merupakan sebuah karya rupa dari potongan plastik berwarna yang digagas pada 1991-1993 sebagai karya interaktif dan menarik di kalangan anak-anak. Di mana, saat itu mereka menggunakan medium Over Head Projecto untuk menciptakan siluet berwarna-warni.
Kebanyakan beberapa cerita Wayang Motekar dimainkan serta akrab dengan dunia anak dan dimunculkan dengan para tokoh karikatur yang banyak menggambarkan sosok bintang.
Menurutnya, pertunjukan Let’s Save the Earth! juga mengadaptasi berbagai unsur kesenian lain seperti instrumen band yang dimainkan secara langsung untuk membangun suasana dan adegan teatrikal yang menampilkan siluet gerakan tari oleh Ine Arini.
"Sehingga tidak hanya mengandalkan kekuatan pesan dan proyeksi dari pemetaan video," tambahnya.
Baca juga: Performing Spiral jadi Pembuka Musim Seni SaliharaTak hanya itu, Respons baik juga disambut oleh para penikmat baru Komunitas Salihara yang baru pertama kali merasakan pengalaman menonton pertunjukan seni secara luring.
Mahasiswa asal Jakarta Selatan, Ardhi (23) memyampaikan kesan pengalaman pertamanya menyaksikan pertunjukan dan pameran yang dipersembahkan oleh Komunitas Salihara.
“Pertunjukkan ini membuat saya terkesima. Hal ini didasari oleh cara penyajian yang diberikan sangat memanjakan mata dan telinga. Visual, musik, cahaya, dan bunyi yang disuguhkan membuat durasi 45 menit terasa sebentar," ungkap Ardhi.
Ardhi juga berharap agar Salihara tetap hadir secara konsisten membawakan karya-karya yang menawarkan konsep kebaharuan di Jakarta
(sof)