LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nasir menyampaikan strategi melawan isme-isme sesat yang berasal dari pemikiran Barat. Dunia Barat era modern memiliki serpihan wajah ekstrim anti-Tuhan dan agama.
Saat era pencerahan pada Abad ke-17 di Barat, lahir humanisme sekuler yang ingin mengganti era teisme dengan ateisme dan menggeser agama dengan agnostisisme. Tren itu menyebar dan berkembang ke segala penjuru dunia.
Bagi orang Barat, kata Haedar, agama punya dosa. Banyak praktik-praktik manipulasi atas nama Tuhan dan agama. Lalu, agama juga tidak memberikan perspektif baru untuk hidup di zama baru.
"Nah, ternyata arus ini terus hidup di negara-negara muslim yang pandangan tauhidnya tidak bisa mencegah pandangan ateisme dan agnostisisme," kata Haedar dalam acara pembukaan Musyawarah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, dikutip Senin (29/8/2022).
Menurut Haedar, tren pemikiran agnostisisme dan ateisme telah masuk pada pemuda-pemuda muslim di Timur Tengah. Bahkan, tren pemikiran itu sudah masuk ke Tanah Air.
Menurut Haedar, pada awal reformasi sekitar satu persen secara terbuka mengatakan anti-Tuhan. Hingga Januari 2014, terdapat 961 orang mengaku ateis, yang terdaftar di Atheist Alliance International. Jumlah itu terus bertambah setiap tahun.
Haedar lalu menyampaikan beberapa cara untuk melawan pemikiran tersebut. Cara mengantisipasi pemikiran sesat itu sebenarnya sudah dirumuskan dalam dokumen Keputusan Muktamar Seabad Muhammadiyah pada 2010.
Dalam dokumen itu tertulis, umat Islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang kompleks dituntut melakukan perubahan strategi perjuangan melawan sesuatu (
Al jihad Li Al muaradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (
Al jihad Li Al muwajahah). Itu untuk memberikan jawaban alternatif yang terbaik mewujudkan kehidupan yang lebih utama.
Dengan konsep itu, umat Islam bisa menekan penetrasi pemikiran agnostisisme, ateisme, liberalisme, dan isme-isme sesat lain dengan menghadirkan pemikiran Islam. Tidak cukup membuktikan mereka salah, tapi melakukan kerja-kerja peradaban dan menebar manfaat bagi kemanusiaan semesta.
Dengan cara itu, kewibawaan Islam akan terbangun karena menampilkan perjuangan di ranah sosial-kemausiaan yang menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat. Bukan pada wilayah konfrontasi membabi-buta yang merusak tenun perdamaian.
"Jadi menghadapi agnostisisme, ateisme, sekularisme, liberalisme, tidak cukup hanya dengan bahwa itu salah, tetapi kita memberitahu bahwa Islam itu melampaui, beyond. Jika itu dilakukan maka bisa bisa
shalih likulli zaman wal makan dan itulah etos pembaharuan," ujar Haedar.
(jqf)