LANGIT7, Jakarta -
PKS berbeda dengan partai politik lainnya, di samping pengkaderannya yang kuat, pemilihnya juga loyalis, sehingga tidak akan kehilangan suara tetapnya itu, yaitu 8 persen. Angka 8 persen yang dimiliki sekarang merupakan modal yang cukup untuk mendapatkan tambahan pada pemilu 2029, tetapi tidak untuk 2024.
Oleh: Robert Alusre
”Sekarang sedang diupayakan oleh PKS, kalau misalnya PKS berkutak di segmen pemilih tradisional lama (Pilpres 2024) mereka tentu sulit untuk mencapai target 15 persen yang ditargetkan partai. Kalau melihat data data survei perhari ini, PKS masih berkutak pada segmen politik lama, yaitu kelompok muslim yang relatif religious dan tinggal di kota serta umumnya kuat di Jawa Barat. DKI Jakarta dan Sumatera tetapi lemah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di situlah profil PKS pada hari ini,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam sebuah wawancara televisi beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Silaturahmi ke Salim Al Jufri, UAS: Bukti Cinta kepada Habaib “Menurut saya yang namanya target sah-sah saja kalau dipatok terlalu tinggi (15 persen) meskipun secara realitas politik itu memang sulit target itu terpenuhi,” ucap Burhanuddin melanjutkan. Dari pernyataan Burhanuddin tersebut bisa diartikan bahwa nanti terjadi penambahan yang tidak signifikan pada Pemilu 2024 atau bisa jadi terjadi stagnasi perolehan suara PKS. Tetap seperti yang sekarang ini, yakni 8 persen kursi di parlemen.
Padahal mesin politik PKS berjalan dari segala sisi karena sebagai partai kader yang terbina baik harusnya memperolah kans yang banyak. Lantas kekurangannya apa? Kalau ditanya tentang kekurangan, maka jawabannya nyaris sempurna, yakni minim kekurangan. Ini tidak dalam rangka mau membanggakan diri bagi PKS, akan tetapi realitas di lapangan memang begitu.
Kader-kader PKS senantiasa bekerja tanpa pamrih dalam berbagai kegiatan sosial maupun kemasyarakatan,
lillahi ta’ala begitu dalam bahasa agamanya. Sehingga memungkinkan partai ini selalu di hati rakyat, seperti salah satu jargonnya.
Baca Juga: PKS: HUT ke-77 RI Momen Evaluasi Kinerja Pemerintah Rasa, inilah yang menjadi topic tulisan ini. Sebagai ilustrasi, ibarat makanan sudah lezat dan enak tetapi tidak menjadi pilihan. Seperti rendang, sangat terkenal sebagai makanan terlezat di dunia tetapi ketika memasuki rumahmakan Padang yang dipilih adalah kepala ikan kakap. Menjadi miris bukan? Kenapa hal ini bisa terjadi. Jawabannya karena biasa saja.
Nah, agar tidak biasa sehingga orang memilihnya bahkan mencari-cari, yaitu dengan cara menghilangkannya sementara dari pasaran,maka dengan begitu biasanya orang akan berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara. Itulah teori marketing yang sederhana dan mudah dicerna.
Jadi, apabila pada 2024 nanti PKS tidak ikut dalam pemilu legislatif, maka pada periode selanjutnya, yakni 2029 akan memiliki kans yang banyak akibat loncatan animo masyarakat terhadap PKS. Sementara, rentang waktu kekosongan legislatif itu
ngapain?
Seabrek kegiatan sosial dan kemasyarakatan akan tetap berjalan, sambil menancapkan kerinduan akan hadirnya para pemimpin dan legislator PKS di negeri ini.
Baca Juga: Pemilu 2024: PKS Siap Daftar Parpol Peserta di Hari Pertama Tahapan Adapun kekhawatiran jika sebuah partai politik ketika tenggelam akan sulit muncul lagi, seperti dialami beberapa partai tua yang sulit muncul lagi secara signifikan, tatkala suaranya anjlok yang mengakibatkan pemilu-pemilu selanjutnya tidak mampu bangkit. Nah, hal ini beda dengan PKS, jika pada 2024 tidak ikut pemilu, itu bukanlah tenggelam tetapi menyelam, lalu mengambil ancang-ancang dari ke dalaman untuk muncul ke permukaan pada Pemilu 2029.
PKS berbeda dengan partai politik lainnya, di samping pengkaderannya yang kuat, pemilihnya juga loyalis, sehingga tidak akan kehilangan suara tetapnya itu, yaitu 8 persen. Angka 8 persen yang dimiliki sekarang merupakan modal yang cukup untuk mendapatkan tambahan pada pemilu 2029, tetapi tidak untuk 2024.
Menurut Burhanuddin, jika tetap ikut di 2024 dan tetap mendapatkan 8 persen, lebih dari itu atau sampai angka 15 persen itu sungguh sulit. Kemandekan 8 persen malah akan berlanjut ke pemilu berikutnya.
Baca Juga: Puan Maharani: Insya Allah 2024 Ada Presiden Perempuan Pada akhirnya berpengaruh terhadap
bargaining politik PKS yang selalu kalah di parlemen, teriakan keadilan danpeduli kepada rakyat kecil menjadi senyap suaranya ketiban suara legislator lain yang begitu banyak. Sia-sialah segala argumentasi dan nalar kebenaran jika pada ujung-ujungnya diambil secara voting. Oleh sebab itu, tentu saja untuk kepentingan parlemen PKS harus memiliki suara lebih banyak dan untuk mendapatkan itu harus dengan strategi baru seperti yang disebutkan di atas.
Memang disadari hal ini sebagai tantangan besar, jika tidak mengikuti Pileg di 2024 yang mengakibatkan tersendatnya kebutuhan finansial untuk partai, meskipun tidak terlalu besar. Sebab, roda partai sebagian besar didanai oleh kadernya.
Sementara anggota legislatif hanya memberikan kontribusi dana yang bisa dihitung dengan jari. Maka,besar kecilnya tantangan tinggal dilihat dari sudut mana?
Baca Juga: Puan: Komunikasi Antarparpol Jaga Stabilitas Jelang Pemilu Serentak 2024 Kalau dilihat dari kepentingan partai dan rakyat Indonesia secara keseluruhan untuk menuju kebaikan bersama, maka tantangan ini kelihatan kecil, tetapi kalau dilihat dari para legislator yang sudah mapan selama dua periode atau lebih dalam menduduki jabatan ini tentu saja akan terasa berat.
Seandainya terlaksana, 2029 baru ikut kembali pemilu, maka yang tampil tentu saja nantinya adalah “darah segar baru” dengan permainan baru tetapi ideologi dalam rangkuman AD/ART yang sekarang ini, bijak, semangat dan kuat. Maka 16 persen suara akan tercapai, bahkan lebih.
Baca Juga:
UAS: PT 20 Persen Monarki Berkedok Demokrasi
Bermodal Politik Gagasan, Zulkifli Hasan Optimistis PAN Menang di Aceh
Eks Koruptor Boleh Nyaleg Jadi Anggota DPR di Pemilu 2024(asf)