LANGIT7.ID, Jakarta -
Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) semestinya bisa menjadi kesempatan untuk membenahi angkutan umum.
Data dari
Kementerian ESDM mengungkapkan, konsumsi BBM bersubsidi digunakan oleh mobil 53 persen, sepeda motor 40 persen, truk 4 persen, dan angkutan umum 3 persen.
"Dalam 10 tahun ke depan kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor) akan terus bertambah. Di sisi lain, tanpa kebijakan yang berpihak dan komprehensif, angkutan umum kian mendekati kepunahan," kata dia dalam keterangan yang diterima
Langit7, Selasa (6/9/2022).
Untuk itu, dia berharap agar pemerintah fokus pada penataan dan pengembangan
angkutan umum penumpang. Tanpa menaikkan harga BBM bersubsidi, penyaluran kepada operator angkutan umum amat dimungkinkan.
Baca Juga: 5 Transportasi Umum Jadi Alternatif Siasati Kenaikan BBM"Saat ini, pengawasan penyaluran BBM bersubsidi untuk angkutan umum bisa melalui aplikasi yang ditunjang dengan penataan operator. Juga bisa menjadi momentum untuk penataan angkutan umum, sehingga seluruhnya berbadan hukum dan menjamin keselamatan dan keamanan pengguna," ungkapnya.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang ini menambahkan, pemerintah juga perlu memberikan subsidi untuk angkutan umum, baik angkutan penumpang maupun barang yang berbadan hukum.
Subsidi angkutan barang diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan para pengemudinya. Sebab, pengemudi angkutan barang menjadi ujung tombak kelancaran arus barang.
"Penikmat BBM bersubsidi selama ini 80 persen adalah kelompok masyarakat mampu. Hanya 20 persen BBM bersubsidi yang dinikmati masyarakat kurang mampu," katanya.
Terkait subsidi pula, tambah dia, pemerintah diharapkan lebih memperhatikan subsidi bagi pengembangan program Buy The Service (BTS) Kementerian Perhubungan yang saat ini sudah beroperasi di 11 provinsi.
Adapun ke-11 kota itu adalah Medan (Trans Metro Deli), Palembang (Trans Musi Jaya), Bogor (Trans Pakuan), dan Bandung (Trans Metro Pasundan).
Kemudian Purwokerto (Trans Banyumas), Yogyakarta (Trans Yogya), Surakarta (Batik Solo Trans), Surabaya (Trans Semanggi Surabaya), Denpasar (Trans Metro Dewata), Banjarmasin (Tranns Banjarbakula) dan Makassar (Trans Mamminatasa).
(bal)